

ESENSIAL.ID – Pemerintah Kuba secara resmi meningkatkan level kewaspadaan nasional dengan menggelar serangkaian latihan kesiapsiagaan militer besar-besaran di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Karibia. Langkah strategis ini diambil langsung oleh Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman potensi agresi militer dari Amerika Serikat yang dipicu oleh retorika keras Washington dalam beberapa pekan terakhir. Latihan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah pernyataan politik dan pertahanan yang tegas bahwa Havana tidak akan tinggal diam terhadap tekanan asing. Sebagaimana dilaporkan CNN, langkah ini diambil menyusul ancaman Presiden Donald Trump awal Januari lalu yang memberikan peringatan keras bahwa Kuba saat ini berada dalam posisi “siap runtuh”. Trump juga mendesak Havana untuk segera “membuat kesepakatan” atau bersiap menghadapi konsekuensi fatal yang serupa dengan apa yang dialami oleh sekutu terdekat mereka di Amerika Latin, Venezuela.
Dalam pidato resminya yang disiarkan oleh televisi nasional Kuba pada Sabtu (24/1/2026), Presiden Díaz-Canel menekankan pentingnya pertahanan mandiri sebagai instrumen pencegahan perang yang paling efektif. “Cara terbaik untuk mencegah agresi adalah membuat imperialisme harus menghitung harga yang harus dibayar jika menyerang negara kami,” ujar Díaz-Canel dengan nada tegas. Pernyataan ini mencerminkan doktrin pertahanan Kuba yang selama dekade terakhir memang berfokus pada biaya tinggi yang harus ditanggung lawan jika melakukan invasi. Ia menambahkan bahwa upaya penguatan militer ini sangat relevan dengan dinamika global saat ini. “Dan itu sangat berkaitan dengan kesiapan kami menghadapi jenis aksi militer seperti ini… Hal ini menjadi sangat penting dalam situasi saat ini,” tambahnya saat memantau pergerakan unit tempur di lapangan.
Presiden Díaz-Canel turun langsung ke lapangan untuk meninjau kesiapan satuan tank Angkatan Bersenjata Kuba guna memastikan seluruh personel dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam kondisi prima. Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi oleh Menteri Angkatan Bersenjata Kuba, Jenderal Álvaro López Miera, beserta jajaran pejabat militer senior lainnya. Selain latihan fisik di lapangan, Dewan Pertahanan Nasional Kuba yang dipimpin langsung oleh Presiden juga telah mengadakan rapat koordinasi tingkat tinggi. Pertemuan strategis tersebut bertujuan untuk meningkatkan serta menyempurnakan tingkat kesiapsiagaan serta kohesi di kalangan elite kepemimpinan negara. Dalam perkembangan yang cukup mengkhawatirkan, dewan tersebut dilaporkan telah menyetujui rencana transisi menuju “Status Perang,” sebuah langkah administratif dan militer yang diambil sebagai antisipasi skenario terburuk jika konfrontasi bersenjata benar-benar pecah.

Secara ideologis dan teknis, manuver militer ini merupakan implementasi dari konsep strategis “Perang Seluruh Rakyat.” Konsep ini mengedepankan mobilisasi total tidak hanya dari unsur militer profesional, tetapi juga keterlibatan aktif warga sipil dalam mempertahankan kedaulatan wilayah. Tekanan dari Washington memang semakin nyata setelah Amerika Serikat melancarkan agresi militer ke Venezuela pada 3 Januari lalu, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Hilangnya sokongan dari Venezuela, yang selama ini menjadi pemasok utama energi dan bantuan finansial, membuat posisi ekonomi Kuba kian terjepit. Namun, melalui latihan ini, Havana ingin membuktikan bahwa tekanan ekonomi dan ancaman militer dari pemerintahan Trump justru akan semakin memperkuat persatuan nasional mereka dalam menghadapi ancaman luar.
