Fenomena Pernikahan Beda Kewarganegaraan Kian Lumrah di Era Digital, Kisah Cinta Indonesia–Malaysia di Tenggarong

Acara resepsi pernikahan di gedung BPU Kampung Baru Tenggarong. (Esensial News)

ESENSIAL NEWS – Fenomena pernikahan beda kewarganegaraan semakin menjadi hal yang lumrah di era digital saat ini. Kemajuan teknologi komunikasi yang memungkinkan interaksi lintas negara tanpa batas telah membuka ruang perkenalan yang lebih luas, termasuk dalam urusan asmara hingga ke jenjang pernikahan. Hubungan yang dahulu terasa mustahil karena jarak dan perbedaan kewarganegaraan, kini justru menjadi realitas yang sering dijumpai di tengah masyarakat. Salah satu kisah nyata datang dari Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yang memperlihatkan bagaimana pernikahan lintas negara dapat terjalin secara harmonis dan penuh kehangatan.

Pasangan Candrawati, seorang wanita asal Indonesia yang berdomisili di Kabupaten Kutai Kartanegara, resmi menikah dengan Muhammad Taufik Zaki, pria berkewarganegaraan Malaysia. Prosesi akad nikah dilangsungkan dengan khidmat di kediaman mempelai wanita yang beralamat di Jalan Tambak Rel Dalam, Kelurahan Kampung Baru. Sementara itu, acara resepsi digelar di Gedung BPU Kampung Baru, Jalan Al-Jawahir, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Tenggarong, dengan dihadiri keluarga, kerabat, dan tamu undangan dari berbagai latar belakang.

Kisah keluarga mempelai pria turut menambah warna dalam pernikahan lintas kewarganegaraan ini. Ayah mempelai pria, Muhammad Silme Delon, menceritakan latar belakang keluarganya yang juga memiliki keterikatan dengan Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa istrinya merupakan orang Indonesia bersuku Jawa. Bahkan, sang anak sempat tinggal di Pulau Jawa pada masa kecilnya sehingga cukup fasih berbahasa Jawa sebelum kemudian dibawa ke Sabah, salah satu dari 13 negara bagian di Malaysia, untuk menempuh pendidikan sekolah dasar. Kenangan tersebut disampaikan dengan nada penuh kehangatan dan humor oleh sang ayah. “dahulu taufik ni waktu masih kecil pandai cakap bahasa jawa, sayepun tak mengerti ape budak ni cakap, hehehe….” ujarnya sambil mengenang momen ketika ia tidak memahami ucapan anaknya yang menggunakan bahasa Jawa.

Suasana resepsi pernikahan berlangsung penuh sukacita, diwarnai ramah tamah antar tamu yang hadir. Kehangatan tersebut mencerminkan penerimaan sosial yang semakin terbuka terhadap pernikahan lintas kewarganegaraan. Perbedaan latar belakang budaya dan status kewarganegaraan tidak menjadi penghalang, justru memperkaya nilai kekeluargaan dan mempererat hubungan antarbangsa dalam lingkup yang paling dasar, yakni keluarga.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di era komunikasi tanpa batas, pernikahan lintas kewarganegaraan bukan lagi sesuatu yang asing. Media sosial, aplikasi pesan instan, hingga mobilitas global telah mempertemukan banyak orang dari berbagai negara dengan lebih mudah. Kisah Candrawati dan Muhammad Taufik Zaki menjadi contoh nyata bahwa cinta dapat tumbuh melampaui batas geografis dan administratif, sekaligus menjadi gambaran bagaimana keluarga modern mampu beradaptasi dan hidup berdampingan dalam keberagaman.

Satu komentar tentang “Fenomena Pernikahan Beda Kewarganegaraan Kian Lumrah di Era Digital, Kisah Cinta Indonesia–Malaysia di Tenggarong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita & Artikel Terkait

Di tengah arus informasi yang kian deras, Esensial.id berkomitmen menyajikan fakta yang relevan, akurat, dan berimbang tanpa kehilangan esensi dari peristiwa yang disampaikan. Setiap konten diproduksi dengan semangat menjaga substansi, memastikan publik memperoleh informasi yang jernih, bermakna, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan mengedepankan ketepatan data, kedalaman konteks, serta bahasa yang lugas, Esensial.id berupaya menjadi rujukan informasi yang tidak sekadar cepat, tetapi juga bernilai, sehingga pembaca dapat memahami peristiwa secara utuh dan kritis.

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.