ESENSIAL NEWS – Dalam upaya mempertahankan dan memperkenalkan kekayaan budaya lokal, Sanggar Tari Nawa Sena dari Desa Semayang, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara, tampil memukau di ajang Panggung Simpang Odah Etam, Tenggarong, pada Sabtu, 12 Juli 2025. Kelompok tari yang terdiri dari tujuh pelajar MTs dan MA Bahrul Ulum Desa Semayang ini mempersembahkan tarian berjudul “Jepen Beolah”, sebuah karya seni yang sarat makna dan mencerminkan identitas budaya masyarakat pesisir di pedalaman Kutai.
Tarian ini bukan sekadar pertunjukan estetika, melainkan simbol kuat dari semangat warga lokal dalam melestarikan warisan leluhur. Judul “Jepen Beolah” menggambarkan keseharian warga Desa Semayang yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Gerakan dalam tarian ini mencerminkan dinamika kehidupan masyarakat pesisir, mulai dari aktivitas menangkap ikan hingga nilai gotong royong yang melekat erat dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Ketua Sanggar Nawa Sena, Hadi, menjelaskan bahwa nama “Nawa Sena” berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti kekuatan dan keberanian. Makna tersebut sejalan dengan semangat generasi muda di desa yang tetap menjunjung tinggi identitas budaya, meskipun mereka hidup jauh dari pusat kota dan modernisasi. Di bawah bimbingan Maria selaku pendamping, grup ini telah aktif berkesenian selama tiga tahun, berada di bawah naungan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) “Digma Lestari” Desa Semayang.
Maria mengungkapkan bahwa para penari tiba di Tenggarong sejak siang hari, mempersiapkan diri untuk tampil pada malam harinya. Antusiasme mereka tidak hanya tertuang dalam tarian, namun juga dalam tekad untuk terus tampil di berbagai event budaya lainnya, termasuk dalam agenda Kukar Festival Budaya Nusantara mendatang.
Kehadiran Sanggar Nawa Sena di panggung budaya bergengsi ini menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan oleh masyarakat kota atau institusi besar, tetapi juga oleh komunitas kecil di pedalaman yang memiliki kecintaan mendalam terhadap tradisi leluhur. Melalui gerak dan irama, mereka menyuarakan jati diri, menyatukan ingatan kolektif, dan mengajak generasi muda untuk tidak melupakan akar budaya mereka.
Upaya ini sejalan dengan tren pelestarian budaya lokal yang kini semakin penting di tengah arus globalisasi. Tarian “Jepen Beolah” menjadi representasi kuat dari bagaimana seni dapat menjadi media edukatif dan inspiratif dalam menjaga eksistensi budaya daerah. Kegiatan ini pun menjadi magnet wisata budaya yang potensial untuk dikembangkan lebih lanjut di wilayah pedalaman Kutai.
Dengan dedikasi seperti yang ditunjukkan Sanggar Nawa Sena, warisan budaya Kutai memiliki harapan untuk terus hidup dan berkembang, melintasi batas waktu dan generasi.(*)
Alhamdulillah maju terus desaku ,desa semayang