

ESENSIAL NEWS – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang kian pesat di berbagai sektor kehidupan kerap memunculkan kekhawatiran, termasuk di kalangan umat beragama. Namun pandangan berbeda disampaikan Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. Muhammad Zainul Majdi. Tokoh nasional yang dikenal sebagai ulama dan intelektual Muslim ini menilai AI tidak perlu diposisikan sebagai ancaman terhadap agama, melainkan sebagai bagian dari sains dan teknologi yang justru dapat memperkaya pengalaman beragama manusia.
Dalam pandangannya, AI merupakan ciptaan manusia yang harus dikelola dengan bijak. Ia menegaskan bahwa teknologi, secanggih apa pun, tetaplah alat yang berada di bawah kendali manusia. Karena itu, ketakutan berlebihan terhadap AI dinilai tidak relevan jika manusia mampu menempatkannya secara proporsional dan etis. Menurut TGB, agama memiliki dimensi fitrah yang melekat pada diri manusia dan tidak mungkin tergantikan oleh mesin atau sistem buatan.
Pandangan tersebut disampaikan TGB melalui akun Instagram resminya. Dalam kutipan yang dibagikan, ia menyatakan, “AI (Artificial Intelligence) itu bukan ancaman terhadap agama. Sejauh-jauhnya AI melangkah, ia takkan mampu menggantikan agama. Karena beragama adalah fitrah manusia. Sebagai bagian dari sains dan teknologi, AI justru bisa memperkaya pengalaman dan perspektif beragama.” Pernyataan ini menegaskan keyakinannya bahwa kemajuan teknologi dan nilai-nilai spiritual tidak harus dipertentangkan, tetapi dapat berjalan beriringan.

Lebih jauh, TGB menilai AI tidak akan pernah mampu menggantikan aspek kemanusiaan yang paling mendasar, seperti kebijaksanaan, empati, dan kedalaman spiritual. Manusia, menurutnya, memiliki hikmah yang lahir dari pengalaman hidup, refleksi batin, dan hubungan dengan Sang Pencipta, sesuatu yang tidak dimiliki oleh AI. Karena itu, posisi manusia tetap sentral, sementara AI hanyalah instrumen pendukung.
Meski demikian, TGB tidak menutup mata terhadap tantangan yang muncul seiring perkembangan AI, termasuk potensi hilangnya lapangan pekerjaan di sejumlah sektor. Kondisi ini dipandang sebagai paradoks yang menuntut kesiapan dan kemampuan adaptasi manusia. Ia mengingatkan pentingnya pengelolaan AI secara bertanggung jawab agar teknologi tersebut benar-benar membawa kemaslahatan, bukan justru menimbulkan kerugian sosial.
Bagi para pendidik dan umat secara luas, TGB berpesan agar penguatan ruhaniyah tetap menjadi prioritas utama. Di tengah derasnya arus teknologi, spiritualitas dinilai sebagai fondasi yang tidak tergantikan dan justru semakin penting. Dengan pendekatan yang seimbang, TGB mendorong masyarakat untuk memanfaatkan potensi positif AI sekaligus menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan. Pesan ini menjadi inspirasi bahwa kemajuan teknologi dan kedalaman spiritual dapat saling melengkapi demi masa depan yang lebih bermakna.
