

ESENSIAL NEWS – Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kutai Kartanegara menyerahkan donasi kepada para korban kebakaran di Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara. Penyerahan bantuan dilakukan pada Selasa (2/12/2025), sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang tertimpa musibah.
Bantuan diserahkan langsung oleh Ketua LAZISNU Kutai Kartanegara, Shobirin, kepada Kepala Desa Liang, Rodiani, didampingi sekretaris serta perwakilan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Kota Bangun.
Donasi yang diberikan berupa uang tunai sebesar Rp1 juta, hasil penggalangan dana yang dilakukan sejak Jumat, 28 November hingga Selasa, 2 Desember 2025. Meski jumlahnya tidak besar, Ketua LAZISNU Kutai Kartanegara Shobirin menegaskan bahwa bantuan ini diharapkan mampu meringankan beban warga yang terdampak kebakaran. Shobirin juga berharap agar para korban diberi ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi ujian tersebut.

Momentum penyerahan bantuan ini juga bertepatan dengan Hari Lahir LAZISNU ke-21 pada 1 Desember 2025. Menurutnya, kegiatan ini sejalan dengan instruksi pengurus pusat agar setiap pengurus daerah melaksanakan aksi nyata yang bermanfaat bagi umat.
Musibah kebakaran RT 009 di Desa Liang terjadi pada Kamis (27/11/2025) sekitar pukul 04.00 WITA dini hari dan menghanguskan 6 rumah, 1 bangunan sarang walet, serta membuat 2 rumah lainnya mengalami kerusakan atau ikut terdampak. Tercatat 8 KK (kepala keluarga) dengan total 29 jiwa kehilangan rumah. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, namun kerugian ditaksir mencapai Rp 2 miliar.
Melalui penyaluran bantuan ini, LAZISNU Kutai Kartanegara berharap semangat kepedulian dan kebersamaan terus terjaga di tengah masyarakat. Aksi kemanusiaan tersebut menjadi pengingat bahwa solidaritas sosial adalah kekuatan utama dalam membantu warga yang tertimpa musibah.
LAZISNU Kukar juga mengajak seluruh pihak untuk terus mendukung upaya pemulihan para korban kebakaran di Desa Liang, sekaligus memperkuat nilai-nilai gotong royong yang menjadi bagian dari jati diri masyarakat. Dengan kolaborasi berbagai elemen, diharapkan proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan memberikan harapan baru bagi warga terdampak.(*)
