Pentingnya Menumbuhkan Rasa Malu dalam Kehidupan Muslim: Pesan Khutbah Ust. Ahmad Romeli di Masjid Al-Amanah

Pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Al-amanah Gunung Sentul Tenggarong. (Esensial News)

Dalam khutbah Jumat yang disampaikan pada 25 Juli 2025 di Masjid Al-Amanah, Gunung Sentul, Tenggarong, Ustadz Ahmad Romeli memberikan pesan penuh makna kepada seluruh jamaah dengan menekankan pentingnya menumbuhkan rasa malu sebagai wujud dari implementasi takwa didalam kehidupan sehari-hari seorang Muslim. Wasiat ketakwaan ini disampaikan secara mendalam, menyentuh dua aspek utama rasa malu yang perlu dimiliki, yakni malu kepada sesama manusia dan malu kepada Allah SWT.

Dalam khutbah tersebut, Ustadz Ahmad Romeli menggarisbawahi bahwa rasa malu bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari akhlak mulia yang harus senantiasa dijaga dan dipupuk. Menurutnya, rasa malu kepada sesama manusia merupakan landasan penting dalam membentuk etika sosial yang baik. Hal ini mendorong setiap individu untuk tidak bertindak semena-mena, menjaga ucapan, serta bersikap sopan dalam berinteraksi sosial. Lebih jauh, beliau menekankan bahwa rasa malu kepada Allah adalah bentuk kesadaran spiritual tertinggi, yang menjaga seseorang untuk tidak melakukan perbuatan dosa dan senantiasa berusaha berada di jalan yang diridhai-Nya.

Khutbah tersebut diperkaya dengan kutipan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW yang mendukung urgensi rasa malu dalam kehidupan seorang Muslim. Di antaranya, Ustaz Ahmad Romeli mengutip sabda Rasulullah SAW: “Malu adalah cabang dari iman,” yang menunjukkan bahwa sifat ini tidak hanya merupakan etika sosial, melainkan bagian dari keimanan yang melekat dalam diri seorang mukmin. Ia juga mengingatkan bahwa jika rasa malu telah hilang dari hati seseorang, maka akan mudah baginya untuk terjerumus ke dalam perbuatan maksiat tanpa rasa bersalah.

Dalam konteks kekinian, Ustaz Ahmad Romeli juga mengajak jamaah untuk mengevaluasi diri di tengah era digital yang semakin terbuka, di mana batas antara privasi dan publik kian kabur. Ia mengajak kaum Muslimin untuk menumbuhkan kesadaran diri bahwa Allah senantiasa mengawasi, sehingga setiap langkah dan tindakan tetap berada dalam koridor syariat Islam.

Khutbah ini menjadi alaram bahwa rasa malu bukan sekadar perasaan, melainkan bagian integral dari ketakwaan dan kontrol diri dalam menjalani kehidupan. Pesan ini relevan untuk diterapkan tidak hanya dalam konteks ibadah, tetapi juga dalam kehidupan sosial, pekerjaan, dan aktivitas digital. Dengan menumbuhkan rasa malu yang sehat, seorang Muslim akan mampu menjaga kehormatan diri dan menjadi pribadi yang bertanggung jawab baik kepada manusia maupun kepada Tuhannya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita & Artikel Terkait

Di tengah arus informasi yang kian deras, Esensial.id berkomitmen menyajikan fakta yang relevan, akurat, dan berimbang tanpa kehilangan esensi dari peristiwa yang disampaikan. Setiap konten diproduksi dengan semangat menjaga substansi, memastikan publik memperoleh informasi yang jernih, bermakna, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan mengedepankan ketepatan data, kedalaman konteks, serta bahasa yang lugas, Esensial.id berupaya menjadi rujukan informasi yang tidak sekadar cepat, tetapi juga bernilai, sehingga pembaca dapat memahami peristiwa secara utuh dan kritis.

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.