

ESENSIAL NEWS – Tenggarong, Sanggar Tari Nawasena asal Desa Semayang, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara kembali memikat perhatian publik dengan penampilan khasnya dalam ajang Kukar Festival Budaya Nusantara (KBFN) 2025 yang digelar di kawasan Simpang Odah Etam (SOE), Tenggarong, Minggu sore (20/7/2025).
Pada kesempatan kali ini, Sanggar Tari Nawasena membawakan tarian Jepen berjudul “Jepen Betimung”, yang terinspirasi dari tradisi perawatan tubuh masyarakat Kutai menjelang pernikahan. Tradisi tersebut, dikenal dengan sebutan betimung, merupakan bentuk perawatan tradisional yang bertujuan untuk membersihkan tubuh, memperlancar peredaran darah, serta memberikan keharuman alami melalui uap rempah-rempah.
Tarian ini dibawakan oleh tujuh orang penari, terdiri dari satu penari laki-laki sekaligus ketua kelompok, Al Malikul Hadi, dan enam penari perempuan.

Dalam keterangannya, Al Malikul Hadi menjelaskan bahwa tarian ini dirancang untuk mengangkat kembali nilai-nilai budaya lokal yang semakin jarang dikenal oleh generasi muda. Ia menuturkan, proses betimung umumnya menggunakan rebusan dari bahan-bahan alami seperti serai, laos, pandan, dan rempah lainnya yang memiliki aroma khas.
“Tarian ini kami kembangkan dari makna asli betimung, yaitu proses membersihkan diri secara lahir dan batin sebelum memasuki fase baru dalam kehidupan. Kami berharap pesan itu tersampaikan melalui gerak dan irama dalam pertunjukan ini,” ujar Hadi. Gerakan yang lembut namun penuh makna, berpadu dengan iringan musik khas Jepen, menciptakan suasana yang sarat nuansa tradisional dan estetika.
Kehadiran sanggar ini dalam dua penampilan selama bulan Juli menjadi bukti komitmen mereka dalam menjaga keberlanjutan budaya Kutai. Kegiatan semacam ini sekaligus membuka ruang apresiasi yang luas bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam pelestarian kesenian daerah.
Hadi juga menyampaikan terima kasih kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara yang telah memberikan dukungan serta ruang ekspresi bagi seniman lokal melalui kegiatan budaya seperti KBFN.
“Semoga kerja sama ini terus berlanjut demi melestarikan warisan budaya, khususnya Tari Jepen,” pungkasnya.
Melalui karya seperti “Jepen Betimung”, Sanggar Tari Nawasena tidak hanya mempertahankan keberadaan tari tradisional, tetapi juga menghadirkan cara baru dalam menyampaikan pesan budaya kepada masyarakat luas. Di tengah modernisasi yang terus berkembang, tarian ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya tetap hidup dan relevan, asalkan terus dihidupi dan diwariskan. (*)
