

ESENSIAL NEWS – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan kembali mendorong upaya normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel, sebuah langkah diplomatik besar yang ia sampaikan langsung kepada Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) melalui sambungan telepon bulan lalu. Informasi tersebut diungkap portal berita Axios, yang mengutip dua pejabat AS, dan menegaskan bahwa Washington melihat momentum baru setelah meredanya konflik di Gaza.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa pemerintahan AS berharap ada kemajuan konkret menjelang pertemuan Trump dan MBS di Gedung Putih pekan depan. Meski demikian, kedua pejabat AS tersebut mengakui masih terdapat perbedaan signifikan antara posisi Saudi dan Israel, terutama menyangkut syarat-syarat utama normalisasi. Trump disebut menyampaikan kepada MBS bahwa berakhirnya perang Gaza telah menghapus salah satu hambatan terbesar menuju pembentukan hubungan resmi Riyadh–Tel Aviv. MBS dikabarkan memberikan respons positif dengan menyatakan kesediaannya bekerja sama.
Arab Saudi, yang selama ini menegaskan perlunya pembentukan negara Palestina sebagai prasyarat normalisasi, turut meminta pakta pertahanan dengan AS serta jaminan keamanan sebagai bagian dari kesepakatan yang akan dibahas dalam pertemuan mendatang. Seorang pejabat senior AS bahkan menyampaikan pesan yang lebih tegas kepada Riyadh bahwa Washington telah memenuhi sebagian besar permintaan Saudi, dan kini giliran kerajaan tersebut menunaikan harapan Trump untuk memajukan normalisasi dengan Israel.

Namun, meski proses dialog terus berlangsung, belum ada indikasi pasti bahwa terobosan diplomatik akan tercapai saat MBS berkunjung pada 18 November. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih secara terbuka menentang Solusi Dua Negara, yang menjadi salah satu tuntutan utama Saudi.
Sebelumnya, pada 29 September, Trump merilis rencana 20 poin untuk mengakhiri konflik Gaza, yang mencakup pembentukan komite teknokratis Palestina untuk mengambil alih pemerintahan Gaza di bawah pengawasan dewan internasional. Gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada 10 Oktober dan disusul penandatanganan deklarasi bersama antara Trump, Presiden Mesir Abdel Fattah Sisi, Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Kesepakatan tersebut mewajibkan Hamas membebaskan 20 sandera Israel, sementara Israel harus melepaskan lebih dari 1.900 tahanan Palestina.
Laporan Wall Street Journal pada 15 Oktober turut mengungkap bahwa pembahasan fase kedua kesepakatan gencatan senjata telah dimulai, mencakup perlucutan senjata Hamas, pengaturan tata kelola pascaperang, serta kemungkinan pengerahan pasukan stabilisasi internasional di Gaza. Semua perkembangan ini menjadi bagian dari dinamika besar yang kini membentuk ulang peta diplomasi Timur Tengah dan membuka kembali peluang normalisasi Saudi–Israel di bawah bayang-bayang perubahan geopolitik kawasan.
Sumber : ANTARA
