

ESENSIAL.ID – Kehadiran Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di Kabupaten Paser dalam beberapa tahun terakhir mulai memberikan dampak positif bagi aktivitas para nelayan. Fasilitas ini membantu mempermudah akses bahan bakar yang selama ini menjadi salah satu kendala utama bagi nelayan saat hendak melaut. Meski demikian, jumlah SPBN yang tersedia saat ini masih dinilai belum mampu menjangkau seluruh kebutuhan nelayan yang tersebar di berbagai kawasan pesisir di daerah tersebut.
Saat ini, Kabupaten Paser memiliki dua titik SPBN yang beroperasi, yakni di Desa Lori, Kecamatan Tanjung Harapan, serta di Desa Pondong Baru, Kecamatan Kuaro. Keberadaan dua fasilitas tersebut menjadi solusi awal bagi sebagian nelayan yang sebelumnya harus mencari bahan bakar dengan jarak yang cukup jauh atau melalui jalur distribusi yang tidak selalu stabil.
Namun jika melihat jumlah nelayan yang mencapai sekitar 3.000 orang di Kabupaten Paser, dua titik SPBN tersebut masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar secara merata. Kondisi geografis wilayah Paser yang cukup luas membuat akses terhadap SPBN tidak selalu mudah dijangkau oleh seluruh nelayan, khususnya mereka yang berada di kawasan pesisir yang lebih jauh dari lokasi SPBN yang ada.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Paser, Rudiansyah, menyampaikan bahwa keberadaan dua SPBN tersebut memang belum sepenuhnya menjawab kebutuhan seluruh nelayan. Namun setidaknya, fasilitas ini sudah mulai mengurangi keluhan yang selama ini disampaikan para nelayan terkait sulitnya mendapatkan bahan bakar untuk aktivitas melaut.
“Kehadiran SPBN di Lori setidaknya dapat dirasakan manfaatnya, kemudian didirikan lagi di Pondong. Artinya keluhan nelayan sudah mulai teratasi,” kata Rudiansyah, Sabtu (28/2/2026) dikutip dari NomorSatuKaltim.
Ia menjelaskan bahwa secara geografis wilayah Kabupaten Paser membentang cukup luas dari bagian utara hingga selatan. Dengan kondisi tersebut, dua SPBN yang ada saat ini masih belum mampu menjangkau sejumlah kawasan nelayan lainnya seperti wilayah pesisir Muara Pasir dan Muara Adang. Kedua wilayah tersebut diketahui memiliki aktivitas nelayan yang cukup aktif, namun akses terhadap fasilitas pengisian bahan bakar khusus nelayan masih terbatas.
Situasi ini menunjukkan bahwa kebutuhan infrastruktur pendukung sektor perikanan, khususnya distribusi bahan bakar, masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu terus diperkuat oleh pemerintah daerah bersama pihak terkait. Tanpa ketersediaan bahan bakar yang mudah dijangkau, aktivitas melaut nelayan berpotensi terganggu, yang pada akhirnya juga berdampak pada produktivitas hasil tangkapan.
Dinas Perikanan Kabupaten Paser sendiri berharap ke depan akan ada tambahan SPBN di sejumlah titik lainnya. Penambahan fasilitas ini dinilai penting agar akses bahan bakar dapat lebih merata dan tidak terpusat hanya pada beberapa wilayah tertentu saja.
Selain persoalan distribusi bahan bakar, Kabupaten Paser juga tengah didorong menjadi salah satu lokasi pengembangan program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang merupakan program dari pemerintah pusat. Program ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem ekonomi masyarakat pesisir melalui peningkatan fasilitas serta pengembangan kawasan nelayan yang lebih terintegrasi.
Rencana pengembangan KNMP tersebut dipusatkan di Desa Lori dengan luas lahan yang telah disiapkan sekitar satu hektare. Berbagai persyaratan administrasi dan teknis untuk pembangunan kawasan tersebut disebut telah dipersiapkan oleh Dinas Perikanan Kabupaten Paser.
Saat ini pemerintah daerah masih menunggu kepastian dari pemerintah pusat terkait realisasi program tersebut. Jika program ini dapat segera direalisasikan, maka tidak hanya fasilitas bagi nelayan yang akan meningkat, tetapi juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir secara lebih luas.
Pemerintah daerah berharap dalam waktu dekat akan ada kejelasan mengenai kelanjutan rencana pembangunan kawasan tersebut, sehingga pengembangan sektor perikanan di Kabupaten Paser dapat berjalan lebih terarah dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi para nelayan.