
Oleh: Achmad Husnin Al-Muafi
Di tengah kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) seharusnya menjadi mercu suar kesejahteraan di Kalimantan Timur. Namun, realita di lapangan sering kali berbicara lain. Kegelisahan masyarakat terus meningkat seiring dengan persepsi terhadap pemerintahan yang dianggap kurang amanah, diperburuk oleh rentetan skandal korupsi yang seolah tak kunjung usai.
Kutai Kartanegara adalah daerah dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang besar, terutama dari sektor pertambangan dan migas. Namun, besarnya anggaran sering kali menjadi “madu” yang mengundang praktik rasuah. Ketika integritas pejabat publik luntur, kebijakan yang diambil cenderung tidak berpihak pada rakyat, melainkan pada kepentingan segelintir kelompok atau korporasi.
Skandal korupsi yang melibatkan oknum pejabat daerah di masa lalu telah meninggalkan luka mendalam bagi kepercayaan publik. Ketidakpercayaan ini menciptakan sentimen negatif: bahwa kemakmuran daerah hanya dinikmati oleh elit, sementara rakyat kecil harus berjibaku dengan biaya hidup yang terus meroket.
Korupsi bukan sekadar masalah moral; ia adalah parasit bagi pertumbuhan ekonomi. Di Kutai Kartanegara, dampak dari pemerintahan yang kurang transparan sangat terasa pada beberapa sektor:
Ketimpangan Infrastruktur: Anggaran yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki akses jalan antar-kecamatan atau fasilitas umum seringkali menyusut akibat “potongan” di meja birokrasi. Hal ini menghambat distribusi komoditas pertanian dan perdagangan lokal.
Iklim Investasi yang Lesu: Investor cenderung menghindari daerah dengan tingkat pungutan liar atau ketidakpastian hukum yang tinggi. Tanpa investasi baru, lapangan kerja bagi pemuda di Kukar menjadi terbatas.
Inefisiensi Bantuan Sosial: Program pengentasan kemiskinan seringkali salah sasaran atau tidak optimal karena lemahnya pengawasan, menyebabkan angka kemiskinan di beberapa kantong wilayah tetap stagnan meskipun anggaran daerah melimpah.
Masyarakat Kutai Kartanegara kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ada tuntutan kuat untuk reformasi birokrasi yang total. Di sisi lain, muncul rasa apatisme akibat janji-janji politik yang jarang ditepati.
“Kami hanya ingin melihat hasil nyata. Jangan sampai kekayaan bumi Kukar habis dikeruk, tapi anak cucu kami hanya mewarisi lubang tambang dan kemiskinan karena uangnya hilang di korupsi,” ungkap salah satu warga lokal dalam sebuah diskusi komunitas.
Untuk memulihkan keadaan, diperlukan langkah-langkah konkret yang tidak hanya bersifat seremonial:
Transparansi Digital: Penggunaan sistem e-budgeting dan e-planning yang dapat diakses publik secara real-time.
Penguatan Pengawasan Independen: Memberikan ruang lebih bagi LSM dan media lokal untuk mengawasi jalannya roda pemerintahan tanpa intimidasi.
Pendidikan Integritas: Membangun budaya anti-korupsi dari tingkat desa hingga kabupaten.
Kegelisahan masyarakat Kutai Kartanegara adalah sinyal peringatan bagi pemerintah. Tanpa adanya pemerintahan yang amanah dan bersih dari korupsi, potensi ekonomi yang luar biasa di Bumi Etam hanya akan menjadi catatan di atas kertas, sementara kesejahteraan rakyat tetap menjadi fatamorgana.