Puasa sebagai Instrumen Fiskal Revolusioner

Oleh: Achmad Husnin Al-Muafi

Di tengah fluktuasi harga komoditas global dan jeratan subsidi energi yang kian mencekik, pemerintah akhirnya menemukan solusi paling paripurna: Kebijakan Lapar Nasional. Siapa sangka, jalan menuju stabilitas ekonomi ternyata tidak ditemukan di buku teks Adam Smith, melainkan di dalam kekosongan perut rakyatnya sendiri.

1. Efisiensi “Bottom-Up” (Secara Harfiah)

Puasa bukan lagi sekadar ibadah, melainkan strategi penghematan anggaran (spending cut) yang paling organik. Bayangkan triliunan rupiah yang bisa dihemat negara ketika jutaan mulut berhenti mengunyah di jam kerja.
Subsidi Pangan: Tekanan pada stok beras menurun drastis karena konsumsi siang hari resmi menjadi nol.
Impor Gandum: Menurun seiring dengan hilangnya kebiasaan ngemil gorengan di rapat-rapat dinas.
Produktivitas Semu: Rapat-rapat panjang yang biasanya butuh kudapan mahal (snack box) kini bisa dipangkas. Hemat anggaran, hemat waktu, dan tentu saja, hemat oksigen karena semua orang lebih memilih diam demi menjaga energi.

2. Sinergi dengan Sektor Kesehatan

Dari sudut pandang preventive healthcare, puasa adalah program “Detoksifikasi Anggaran Kesehatan.” Dengan rakyat yang membatasi asupan secara paksa, potensi penyakit akibat gaya hidup mewah (kolesterol, diabetes, obesitas) menurun. Ini berarti beban BPJS Kesehatan akan melandai. Rakyat sehat karena tidak mampu makan banyak adalah kemenangan telak bagi kas negara.

3. “Green Economy” Tanpa Usaha

Puasa adalah kampanye ramah lingkungan paling jujur.
Reduksi Sampah: Volume plastik bungkus makanan menurun karena frekuensi jajan yang anjlok.
Efisiensi Transportasi: Orang-orang cenderung membatasi pergerakan demi menghemat kalori, yang secara otomatis menekan konsumsi BBM subsidi.
“Mengapa kita harus pusing memikirkan hilirisasi industri jika kita bisa melakukan ‘hilirisasi nafsu’? Negara tidak perlu berutang jika rakyatnya sudah terbiasa berutang makan pada esok hari.”

Kesimpulan

Jika kebijakan ini diterapkan secara masif dan permanen, kita mungkin akan menjadi negara pertama di dunia dengan Cadangan Devisa Tertinggi berdasarkan Indeks Kelaparan Sukarela. Kita tidak lagi butuh konsultan dari McKinsey; kita hanya butuh imam yang khusyuk dan jadwal imsakiyah yang diperpanjang.
Hemat pangkal kaya, puasa pangkal surplus APBN. Selamat menahan lapar demi keberlangsungan proyek strategis nasional!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Berita & Artikel Terkait

Berpegang pada filosofi “Menjaga Inti Informasi.” Kami percaya bahwa setiap peristiwa memiliki substansi yang harus disampaikan secara jernih dan utuh, tanpa distorsi maupun sensasionalisme. Karena itu, setiap konten diproduksi dengan komitmen pada akurasi, relevansi, dan keberimbangan, agar publik memperoleh informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga bermakna.