Wisata Keadilan: Menemukan Gedungnya, Kehilangan Maknanya

Oleh: Achmad Husnin Al-Muafi

Jika Anda bertanya apakah keadilan itu ada di Indonesia, jawabannya adalah: Ada, dan tersebar merata secara geografis. Hampir di setiap sudut kabupaten dan kota, kita bisa menemukan gedung-gedung megah bertuliskan “Pengadilan”.

Secara administratif, kita adalah juara dalam membangun tempat untuk mencari keadilan.

Masalahnya hanya satu: kita sering menemukan gedungnya, tapi jarang menemukan isinya.

1. Adil dalam Kamus, Aneh dalam Realitas

Secara etimologi, “adil” berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya. Namun di negeri ini, istilah tersebut telah mengalami evolusi kreatif.

Adil kini dimaknai sebagai: “Menempatkan si miskin di penjara dan menempatkan si kaya di sel fasilitas hotel bintang lima.”
Adil juga berarti “tidak condong ke kiri atau ke kanan”, tetapi sangat condong kepada siapa yang memegang dompet paling tebal atau koneksi paling kuat.

2. Keadilan dalam Mikroskop Domestik

Tak perlu jauh-jauh bicara korupsi triliunan yang hukumannya seringan kapas. Mari lihat satire kehidupan sehari-hari yang kita anggap “normal”:

Dalam Rumah Tangga: Keadilan sering kali hanyalah mitos saat dominasi patriarki membuat perempuan menjadi warga kelas dua di dapurnya sendiri.

Dalam Hierarki Usia: Yang tua merasa paling benar karena “sudah banyak makan asam garam”, sehingga yang muda dianggap tidak tahu apa-apa bahkan jika yang tua sedang menelan hoaks mentah-mentah.

Dalam Dunia Kerja: Atasan adalah “Tuhan Kecil”. Jika bawahan salah, hukumannya adalah kiamat. Jika atasan salah, itu disebut “strategi yang belum matang”. Kita lupa bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa, kecuali tentu saja, jika Anda adalah seorang bos.

3. Menjamurnya “Pabrik” Keadilan

Lembaga hukum, organisasi bantuan hukum, hingga organisasi mahasiswa dengan legalitas mentereng tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Semuanya menawarkan jasa “penegakan hukum”. Namun, saking banyaknya yang ingin menegakkan hukum, kita sampai lupa apa yang sedang kita tegakkan: Hukumnya, atau kepentingannya?

Keadilan kini menjadi teka-teki silang yang sulit ditafsirkan. Ia menjadi “masker” bagi wajah kekuasaan. Si kaya bisa membeli interpretasi, sementara si miskin hanya bisa membeli doa agar tidak terkena urusan hukum.

Kesimpulan: Keadilan sebagai Pajangan

Pada akhirnya, keadilan di negeri ini telah menjadi barang antik: Indah dipandang, mahal harganya, dan dilarang keras untuk disentuh oleh rakyat jelata. Kita adalah bangsa yang sangat rajin menjunjung hukum setinggi-tingginya saking tingginya dijunjung, sampai-sampai hukum tersebut tidak lagi bisa menyentuh realitas di bumi.

“Teruslah membangun gedung pengadilan yang megah. Setidaknya, jika kita tidak bisa mendapatkan keadilan, kita masih bisa berfoto di depan gedungnya sebagai bukti bahwa kita pernah mencoba mencari sesuatu yang tidak ada.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Berita & Artikel Terkait

Berpegang pada filosofi “Menjaga Inti Informasi.” Kami percaya bahwa setiap peristiwa memiliki substansi yang harus disampaikan secara jernih dan utuh, tanpa distorsi maupun sensasionalisme. Karena itu, setiap konten diproduksi dengan komitmen pada akurasi, relevansi, dan keberimbangan, agar publik memperoleh informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga bermakna.