
Oleh: Achmad Husnin Al-Muafi
Dunia pendidikan kita hari ini sedang terjangkit sebuah sindrom yang sangat “ilmiah” namun destruktif: pendekatan empiris-materialis yang linier. Kita dibiasakan melihat segala sesuatu dari satu sisi, menyimpulkan dalam sekali olah, dan yang paling berbahaya menganggap bahwa urusan perut otomatis menyelesaikan urusan otak.
Puncak dari narasi ini mewujud dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Secara medis-empiris, siapa yang berani menolak protein? Namun, jika kita membedahnya dengan pisau bedah Antonio Gramsci dan Paulo Freire, piring-piring tersebut ternyata menyimpan aroma hegemoni yang pekat.
Hegemoni di Atas Nampan
Dalam kacamata Gramsci, MBG adalah instrumen hegemoni yang paripurna. Negara tidak perlu lagi menggunakan represi untuk menundukkan nalar kritis rakyat; cukup dengan aroma nasi hangat. Inilah “Revolusi Pasif” sebuah konsesi kecil diberikan agar masyarakat tetap dalam barisan konsensus.
Sangat satire melihat bagaimana para “Intelektual Organik” di kursi jabatan mempromosikan program ini. Mereka seringkali tampil sebagai pahlawan tanpa celah di depan kamera, namun saat terjadi kekeliruan nalar seperti kasus aparat yang melakukan jumping conclusion menuduh pedagang es gabus menyebar narkoba tanpa dasar sains mereka tiba-tiba melakukan “metamorfosis identitas”. Mereka berdalih itu hanyalah kekhilafan individu. Sungguh praktis: jabatan untuk kuasa, namun individu untuk tanggung jawab.
Pedagogi “Mulut Tersumpal”
Paulo Freire pasti akan gelisah melihat ini. Sekolah kini terancam berubah menjadi sekadar “restoran birokrasi”. Jika Freire mengkritik “Pendidikan Gaya Bank” di mana guru hanya menabung informasi ke otak siswa, kini negara menambah depositnya: menabung lauk-pauk ke perut siswa.
Masalahnya, pendidikan seharusnya membebaskan (conscientização), bukan menjinakkan.
Siswa dididik menjadi objek penerima yang pasif. Kita sedang membangun “Kebudayaan Bisu” yang baru. Anak-anak mungkin tumbuh dengan fisik yang kuat dan otot yang besar, namun memiliki nalar yang lumpuh. Mereka menjadi sehat secara lahiriah, tetapi “bisu” secara batiniah saat melihat ketidakadilan sosial di depannya. Sebab, bagaimana mungkin seseorang bisa menggugat tangan yang memberinya makan?
Masker Pikiran dari Wabah Disinformasi
Inilah pendidikan terburuk bagi generasi depan: ketika para profesional dan pemegang jabatan justru menjadi motor distorsi kognitif dan penyebar miskonsepsi. Mereka bicara santun, namun merusak nalar secara sistematis.
Kita butuh “Masker Pikiran”. Kita harus cerdik memisahkan dimensi ruang dan waktu:
Ruang Publik: Setiap kata pejabat adalah produk hukum dan kebijakan yang berkonsekuensi mutlak. Tidak ada “pendapat pribadi” saat seragam masih melekat.
Ruang Nalar: Keadilan bukan sekadar gedung yang menjamur di daerah-daerah, melainkan ketepatan dalam menempatkan kebenaran di atas dominasi baik dominasi usia, gender, maupun ekonomi.
Teruslah menebar gizi fisik, namun jangan lupakan gizi nalar. Jangan sampai sejarah mencatat kita sebagai bangsa yang berhasil menghapus stunting pada tubuh, namun melestarikan stunting pada logika. Jangan sampai kita menjadi bangsa yang besar secara kuantitas, namun menjadi “Bangsa Bisu” yang kehilangan hak atas kebenaran.