HP Jadul dan Pencarian Sinyal Gaib

Oleh : Achmad Husnin Al Muafi

​Kehidupan di rumah Dilah memang tidak pernah membosankan. Setelah drama “Ikan Nila yang Diduga Dipukul Teman Bapak” mereda, kini muncul babak baru yang melibatkan persaingan teknologi antara Ibu dan anak. Segalanya bermula di suatu sore yang tenang, saat Dilah asyik menatap layar ponsel Android milik Ibu dengan posisi leher yang semakin menekuk ke bawah—posisi “udang” yang paling ditakuti semua orang tua di dunia.

​Ibu, yang sedang duduk di sofa sambil sesekali membalas pesan WhatsApp grup majelis taklim, mulai merasa harus menjalankan fungsi edukasinya. “Dilah, jangan main HP terus nak. Gak bagus buat mata, nanti matanya capek, pusing,” tegur Ibu dengan nada otoriter yang lembut.

​Namun, Dilah bukan lagi anak kemarin sore yang bisa dilarang tanpa argumen. Ia mendongak, menatap Ibu dengan mata bulatnya yang jernih, lalu melirik ke arah tangan Ibu. “Ibu juga main HP terus tu,” jawab Dilah pendek, namun telak. Skakmat.

​Ibu tertegun sejenak. Benar juga, pikirnya. Sulit melarang anak jika teladan yang diberikan adalah memegang benda persegi yang sama sepanjang waktu. Tapi Ibu tidak kehilangan akal. Ia bangkit, melangkah ke arah laci meja rias, dan mengeluarkan sebuah benda legendaris dari masa lalu: sebuah HP jadul dengan tombol fisik yang menonjol dan layar sekecil perangko.

​”Ya sudah, kalau mau main HP, ini aja yang dipakai Dilah,” ujar Ibu sambil menyodorkan ponsel kuno itu.

​Dilah menerimanya dengan dahi berkerut. Baginya, benda ini lebih mirip batu bata berwarna perak daripada alat komunikasi. Ia mencoba menyentuh layarnya, tapi tidak ada yang bergerak. Ia mencoba menekan layarnya lebih keras, tetap saja diam.

​”Gimana ini pakenya Ibu? Kok keras banget dipencet? Gak kayak HP Ibu,” keluh Dilah sambil mengerahkan tenaga jempolnya hingga memerah. Ia biasa menggunakan layar sentuh Android yang hanya butuh usapan selembut sutra, sedangkan HP jadul ini menuntut perjuangan fisik untuk mengetik satu huruf saja.

​Ibu tertawa kecil melihat perjuangan putrinya. “Begini caranya, ditekan tombolnya, bukan layarnya. Kalau mau huruf ‘B’, pencet angka dua dua kali,” jelas Ibu sambil menunjukkan demo cara mengetik yang sangat mekanis. Dilah memperhatikan dengan seksama, tampak kagum sekaligus bingung kenapa orang jaman dulu mau bersusah payah hanya untuk mengirim pesan “Otw”.

​Setelah beberapa menit bereksperimen, Dilah mulai mengerti. Ia mulai asyik memencet tombol-tombol itu hanya untuk mendengarkan bunyi klik-klik-klik yang memuaskan. Namun, kegembiraan itu hanya bertahan sebentar. Dilah menyadari ada sesuatu yang hilang. Di layar HP jadul itu tidak ada ikon YouTube, tidak ada TikTok, dan yang paling penting, tidak ada gim warna-warni.

​Tiba-tiba, Dilah menatap Ibu dengan ekspresi paling serius yang pernah ia tunjukkan hari itu. “Ibu… minta Wi-Fi nya Ibu.”

​Ibu yang tadinya sedang asyik meminum teh, nyaris tersedak. Ia menatap HP jadul yang ada di tangan Dilah, lalu menatap Dilah bergantian. “Wi-Fi? Buat apa nak?”

​”Ya buat ini, biar bisa buka YouTube,” jawab Dilah dengan nada seolah-olah itu adalah pertanyaan paling bodoh di dunia.

​Ibu terdiam, lalu senyum-senyum sendiri. Logika Dilah sungguh luar biasa. Di kepalanya, semua benda yang bernama “HP” adalah pintu masuk menuju dunia internet. Ia berpikir bahwa masalah utama HP jadul itu hanyalah koneksi. Selama ada “Wi-Fi Ibu” yang ajaib, maka HP sekecil dan sekeras apapun pasti bisa memutar video lagu anak-anak favoritnya.

​Ibu membayangkan bagaimana cara menjelaskan kepada Dilah bahwa HP itu bahkan tidak punya antena penangkap sinyal modern, apalagi layar yang bisa menampilkan resolusi HD. Menjelaskan perbedaan antara sistem Android dan teknologi GSM lawas kepada anak usia lima tahun rasanya sama sulitnya dengan menjelaskan kenapa ikan nila yang dibeli bapak seharga Rp300.000 itu mati tanpa dipukul teman bapak.

​”Dilah sayang,” kata Ibu sambil mengusap kepala putrinya, “HP itu temenan sama pulsa, bukan sama Wi-Fi. Dia gak kenal YouTube, dia cuma kenal telepon sama SMS.”

​Dilah menatap HP itu lagi, lalu menaruhnya kembali di atas meja dengan kecewa. “Berarti HP ini lagi sakit ya Bu? Gak mau temenan sama Wi-Fi?”

​Ibu kembali tersenyum lebar. Kepolosan Dilah adalah hiburan terbaik di rumah itu. Seringkali, logika anak kecil membuat orang dewasa sadar bahwa dunia ini sebenarnya sederhana, kitalah yang membuatnya rumit dengan berbagai jenis gawai.

​Malam itu, saat Bapak pulang dan mendengar cerita tentang “HP keras” dan “Permintaan Wi-Fi gaib” tersebut, ia tertawa paling keras. “Sama seperti Ustadzah tadi Pak,” goda Ibu. “Dilah punya standar sendiri soal apa yang dia suka. Kalau gak sesuai standarnya, mau dipaksa gimana pun, ya tetep ‘Enggak’.”

​Dilah hanya memperhatikan kedua orang tuanya tertawa, sambil tetap penasaran, di mana sebenarnya Ibu menyembunyikan Wi-Fi yang bisa membuat ikan nila mati dan HP jadul jadi sakti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita & Artikel Terkait

Berpegang pada filosofi “Menjaga Inti Informasi.” Kami percaya bahwa setiap peristiwa memiliki substansi yang harus disampaikan secara jernih dan utuh, tanpa distorsi maupun sensasionalisme. Karena itu, setiap konten diproduksi dengan komitmen pada akurasi, relevansi, dan keberimbangan, agar publik memperoleh informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga bermakna.

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.