Kematian Ayatollah Ali Khamenei Berpotensi Picu Eskalasi Konflik Iran AS Israel

Foto: Analis Timur Tengah, Hasibullah Satrawi. (aida.or.id)

ESENSIAL.ID – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah kabar meninggalnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang disebut menjadi target serangan dalam konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Peristiwa ini memicu spekulasi luas mengenai arah kebijakan luar negeri Iran serta potensi perubahan politik di negara tersebut.

Mengutip laporan Kanal YouTube MetroTv, 1 Maret 2026, analis Timur Tengah Hasibullah Satrawi menilai terdapat dua skenario besar yang kemungkinan terjadi setelah wafatnya pemimpin tertinggi Iran tersebut. Skenario pertama adalah upaya perubahan rezim secara paksa yang didorong oleh kepentingan Amerika Serikat dan Israel. Sementara skenario kedua adalah justru menguatnya kembali semangat revolusi Islam Iran yang selama ini menjadi fondasi politik negara tersebut.

Dalam wawancara tersebut, Hasibullah menyampaikan belasungkawa atas wafatnya tokoh yang dinilai memiliki pengaruh besar di dunia Islam dan gerakan perlawanan terhadap dominasi Barat. Ia menjelaskan bahwa kematian Khamenei dapat menjadi momentum penting dalam dinamika politik Iran, baik sebagai pintu masuk perubahan rezim maupun sebagai pemicu konsolidasi kekuatan internal Iran.

Menurutnya, skenario perubahan rezim tidak dapat diabaikan. Sejak lama, Amerika Serikat dan Israel disebut memiliki kepentingan agar Iran kembali ke pola politik sebelum Revolusi Islam 1979, ketika negara tersebut berada dalam pengaruh kuat Barat di bawah kepemimpinan Mohammad Reza Pahlavi. Salah satu figur yang kerap disebut sebagai kandidat alternatif dalam wacana perubahan rezim adalah Reza Pahlavi, putra mantan syah Iran yang kini berada di pengasingan.

Meski demikian, Hasibullah menilai kemungkinan perubahan rezim secara paksa relatif kecil jika melihat reaksi masyarakat Iran yang menunjukkan solidaritas besar dan kecaman terhadap Amerika Serikat serta Israel. Ia justru melihat potensi lebih besar bahwa peristiwa ini akan memperkuat kembali ideologi revolusi Islam yang telah berlangsung sejak 1979.

Ia mengatakan, “Nah, saya ingin menakar dua kemungkinan ini sebagai dua hal yang sama-sama masih mungkin terjadi.”

Di sisi lain, situasi keamanan kawasan dilaporkan semakin memanas. Serangan balasan dan ledakan dilaporkan terjadi di beberapa wilayah, termasuk Israel dan kawasan Teluk, menandakan eskalasi konflik yang terus meningkat. Hasibullah menyebut kondisi tersebut dapat dipahami sebagai fase balas dendam dari pihak Iran setelah kehilangan pemimpin tertingginya.

Meski pucuk pimpinan Iran menjadi sasaran serangan, ia menilai sistem politik Iran tidak akan runtuh begitu saja. Struktur konstitusi negara tersebut telah mengatur mekanisme transisi kekuasaan melalui tiga unsur utama, yakni presiden, Mahkamah Agung, dan Dewan Penjaga Konstitusi hingga pemimpin tertinggi baru dipilih.

Dalam konteks diplomasi internasional, peluang negosiasi tetap dinilai terbuka meski sangat berat. Ia menyebut masa berkabung selama 40 hari di Iran dapat menjadi momentum awal bagi upaya meredakan konflik dan mendorong dialog antara pihak-pihak yang terlibat.

Hasibullah juga menilai beberapa negara dapat berperan sebagai mediator, termasuk Indonesia. Ia mengapresiasi inisiatif Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan kesiapan untuk membantu proses mediasi antara Iran dan Amerika Serikat. Menurutnya, langkah tersebut patut didukung mengingat dampak konflik Timur Tengah dapat dirasakan secara global, termasuk terhadap stabilitas ekonomi dan energi dunia.

Lebih jauh, ia memperingatkan bahwa jika konflik terus bereskalasi tanpa jalur diplomasi, maka perang yang lebih luas di kawasan Timur Tengah tidak dapat dihindari. Kondisi tersebut bukan hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga dapat memicu ketidakstabilan regional dan global dalam jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita & Artikel Terkait

Berpegang pada filosofi “Menjaga Inti Informasi.” Kami percaya bahwa setiap peristiwa memiliki substansi yang harus disampaikan secara jernih dan utuh, tanpa distorsi maupun sensasionalisme. Karena itu, setiap konten diproduksi dengan komitmen pada akurasi, relevansi, dan keberimbangan, agar publik memperoleh informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga bermakna.

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.