Filosofi di Balik Bungkus Janur: Memaknai Tradisi Kupatan dalam Kehidupan Nusantara

Ilustrasi Tradisi Kupatan dalam Kehidupan Nusantara. (Foto: Generated by Ai)

Oleh : Achmad Husnin Al Muafi

Setelah gema takbir mereda dan silaturahmi Lebaran mulai mencair dalam kehangatan maaf, masyarakat di berbagai penjuru Nusantara, khususnya di tanah Jawa, tidak lantas mengakhiri perayaan. Tepat tujuh hari setelah 1 Syawal, sebuah tradisi unik bernama Kupatan atau Bakda Kupat digelar. Lebih dari sekadar pesta makan, Kupatan adalah manifestasi spiritual, sosial, dan budaya yang mendalam, di mana filosofi hidup dibalut rapi dalam anyaman janur kuning.

Akar Sejarah dan Dakwah Sunan Kalijaga

Jasa Desain Rumah 3D Denah RAB

Tradisi Kupatan tidak muncul dari ruang hampa. Secara historis, tradisi ini erat kaitannya dengan strategi dakwah Sunan Kalijaga, salah satu anggota Walisongo.

Beliau menggunakan pendekatan budaya untuk mengenalkan ajaran Islam agar lebih mudah diterima oleh masyarakat yang kala itu masih kental dengan pengaruh Hindu-Buddha.

Sunan Kalijaga memperkenalkan konsep dua kali hari raya bagi umat Muslim: Bakda Lebaran (tepat pada 1 Syawal) dan Bakda Kupat (seminggu kemudian). Di antara keduanya, umat Muslim disunnahkan untuk berpuasa selama enam hari. Maka, Kupatan menjadi simbol kemenangan kedua bagi mereka yang telah menyempurnakan ibadah puasanya. Ini adalah cara yang cerdas untuk menyatukan ketaatan agama dengan kearifan lokal.

Simbolisme “Ngaku Lepat” dan “Laku Papat”

Kata “Ketupat” atau “Kupat” bukan sekadar nama makanan. Secara etimologis dalam bahasa Jawa, Kupat merupakan kependekan dari Ngaku Lepat yang berarti mengakui kesalahan.

Dalam tradisi ini, ada pengakuan tulus bahwa manusia adalah tempatnya khilaf. Melalui Kupatan, seseorang diajak untuk melepaskan ego, membuka diri, dan memohon maaf kepada sesama. Tidak berhenti di situ, Kupat juga sering dimaknai sebagai Laku Papat (empat tindakan) yang menjadi rukun dalam merayakan hari kemenangan:

Filosofi Nama dan Bentuk:

Kupat: Akronim bahasa Jawa ngaku lepat (mengakui kesalahan), simbol kerendahan hati untuk saling memaafkan. Ada juga yang menyebut dari kata khufadz yang berarti menjaga.

Anyaman Janur: Melambangkan rumitnya kesalahan manusia. Janur sendiri berasal dari bahasa Arab جاء نور (telah datang cahaya/hati yang bersih).

Isi Beras: Melambangkan kesucian hati setelah Idulfitri.

Empat Sisi/Sudut: Melambangkan empat nafsu manusia (amarah, lawwamah, sufiah, mutmainnah) yang berhasil dikendalikan, atau kiblat papat limo pancer (empat penjuru mata angin dan pancer/pusat).

Hal ini melambangkan harapan agar manusia senantiasa mendapatkan petunjuk atau cahaya ilahi dalam setiap langkahnya.

Anyaman ketupat yang rumit dan saling tumpang tindih menggambarkan kompleksitas jalan hidup manusia. Ada kalanya hidup terasa sulit, berkelok, dan penuh masalah. Namun, jika dijalani dengan kesabaran dan ketaatan, kerumitan itu akan membentuk satu kesatuan yang kokoh dan indah.

Warna beras yang putih bersih di dalam ketupat setelah dimasak melambangkan kesucian hati yang terbungkus rapi. Hal ini mengingatkan kita bahwa meskipun dunia luar (anyaman) penuh dengan dinamika, hati nurani harus tetap dijaga agar tetap bersih dan tulus.

Kupatan sebagai Perekat Sosial

Secara sosiologis, Kupatan adalah momentum penguatan kohesi sosial. Di banyak desa, tradisi ini dirayakan dengan cara “kenduri” di masjid atau musala. Setiap warga membawa tenong atau wadah berisi ketupat lengkap dengan sayur lodeh, opor ayam, dan sambal goreng.

Setelah doa bersama dipanjatkan, hidangan tersebut dimakan bersama-sama atau saling ditukar antar-tetangga. Di sinilah sekat-sekat sosial runtuh. Tidak ada si kaya atau si miskin; yang ada hanyalah kebersamaan dalam satu nampan. Tradisi ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak dinikmati sendirian, melainkan dibagi bersama lingkungan sekitar.

Di daerah pesisir, seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Kupatan bahkan dirayakan dengan pesta laut atau melarung sesaji sebagai bentuk syukur atas hasil tangkapan ikan yang melimpah. Ini menunjukkan betapa fleksibelnya tradisi Kupatan dalam menyerap kearifan lokal di masing-masing wilayah.

Relevansi Kupatan di Era Modern

Di tengah gempuran modernitas dan gaya hidup individualis, Kupatan tetap relevan sebagai pengingat jati diri. Ia menjadi “rem” sejenak dari hiruk-pikuk pekerjaan untuk kembali pada nilai-nilai dasar kemanusiaan: rendah hati untuk meminta maaf dan keikhlasan untuk memberi maaf.

Kupatan mengajarkan kita bahwa persaudaraan (ukhuwah) adalah modal sosial yang paling berharga. Dengan mengaku salah (ngaku lepat), kita belajar untuk tidak menjadi pribadi yang arogan. Dengan berbagi makanan, kita belajar empati.

Kesimpulan

Kupatan bukan sekadar ritual makan nasi yang dibungkus janur. Ia adalah perayaan tentang kerendahan hati, kesucian diri, dan kekuatan silaturahmi. Ia membuktikan bahwa agama dan budaya bisa berjalan beriringan, saling memperkaya tanpa harus saling meniadakan.

Setiap kali kita membelah ketupat dan menikmatinya bersama keluarga atau tetangga, kita sebenarnya sedang merayakan kemenangan atas ego diri kita sendiri

3 komentar tentang “Filosofi di Balik Bungkus Janur: Memaknai Tradisi Kupatan dalam Kehidupan Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita & Artikel Terkait

Lahir dan tumbuh di tanah Nusantara, pusat perubahan menuju ibu kota masa depan Indonesia.
Menyuarakan fakta dan cerita dari berbagai penjuru negeri dalam satu ruang informasi.