ESENSIAL.ID - Gempa berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang Kolombia barat pada Senin (10/8/2026) pukul 07.34 waktu setempat, menewaskan sedikitnya 111 orang dan melukai 87 lainnya.
Episenter gempa berada 5 kilometer di selatan San José del Palmar, Provinsi Chocó, sekitar 400 kilometer barat Bogotá, dengan kedalaman sekitar 110 kilometer. Menurut AP News, getaran utama tidak disertai peringatan tsunami, sementara Dinas Geologi Kolombia mencatat gempa ini sebagai yang terkuat di negara itu sepanjang abad ke-21 dengan sedikitnya 21 gempa susulan.
Korban tewas tersebar di sejumlah wilayah: 40 orang di Risaralda, 27 di Valle del Cauca termasuk tiga anak, 9 di Chocó, 2 di Caldas, dan 1 di Antioquia, sementara 32 korban lainnya belum dirinci. Sekitar 1.600 bangunan rusak dan sedikitnya 61 bangunan runtuh total. Cali, kota terbesar ketiga Kolombia, menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah, dan getaran turut terasa hingga Ekuador dan Panama.
Presiden Kolombia yang baru dilantik, Abelardo de la Espriella, menetapkan status darurat nasional untuk mempercepat koordinasi tanggap darurat menyusul bencana tersebut. Penetapan itu menjadi ujian pertama bagi pemerintahan baru dalam menangani bencana berskala nasional. Sejumlah negara, yakni Amerika Serikat, Ekuador, Prancis, Meksiko, dan Brasil, telah menawarkan bantuan kepada Kolombia.
Kolombia dan Indonesia sama-sama berada di Cincin Api Pasifik, jalur aktivitas seismik dan vulkanik paling aktif di dunia, sehingga gempa kali ini menjadi pengingat bagi pembaca Indonesia akan pentingnya kesiapsiagaan bencana. Mitigasi gempa di kota padat penduduk, edukasi masyarakat, serta koordinasi tanggap darurat nasional yang cepat menjadi kunci untuk menekan dampak bencana serupa.
Gempa Kolombia terjadi kurang dari dua bulan setelah gempa dahsyat menghantam Venezuela pada Juni 2026 yang menewaskan lebih dari 6.000 orang. Rentetan gempa besar di kawasan Amerika Latin itu kembali menyoroti pentingnya penguatan sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan kawasan. Angka korban di Kolombia masih dapat terus berubah seiring proses evakuasi dan pencarian korban berjalan.