ESENSIAL.ID - Topan Dolphin menerjang Okinawa, Jepang, dengan hujan deras dan angin kencang, sekaligus memicu kesiapsiagaan penuh di China yang memproyeksikan badai mencapai daratan pesisir timur pada Minggu malam hingga Senin (9-10 Agustus 2026), berdekatan dengan awal pekan kerja di negeri itu. Di Jepang, gelombang pertama dampak topan membuat aliran listrik padam di lebih dari 44.000 bangunan, sementara otoritas China menaikkan siaga ke level tertinggi di Provinsi Zhejiang, dilansir BBC dan AP.
Di Okinawa, Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat hembusan angin maksimum 162 km/jam (101 mph) dan menggolongkan Dolphin sebagai topan kategori “sangat kuat”. Kerusakan tercatat setelah badai itu melintas langsung di atas kepulauan tersebut: sedikitnya lima warga lanjut usia dilaporkan menderita luka ringan, sementara Bandara Naha, gerbang udara utama Okinawa, menghentikan operasional dan sejumlah penerbangan dibatalkan, mengutip laporan BBC.
Menjelang landfall, China bergerak cepat mengamankan wilayah yang berpotensi terdampak. Dilansir AP, Provinsi Zhejiang menetapkan siaga tertinggi sekaligus mengaktifkan tanggap darurat level III; sekolah serta objek wisata ditutup, dan layanan pelabuhan serta feri dihentikan. Bandara Ningbo Lishe juga menghentikan operasi sejak Sabtu (8/8) pukul 23.30 waktu setempat, dengan Shanghai diperkirakan berada di jalur lintasan topan. Serangkaian langkah antisipasi itu diambil jauh sebelum badai tiba di daratan.
Proyeksi jalur badai mengarah ke pesisir timur China antara Zhejiang dan utara Fujian, sebagaimana diverifikasi The Jakarta Post. Badan-badan meteorologi memperkirakan curah hujan 200-400 mm mengguyur wilayah terdampak, yang menurut laporan AP berisiko memicu banjir parah dan tanah longsor. Penutupan fasilitas transportasi dan publik dilakukan lebih awal agar korban jiwa bisa ditekan.
Musim topan tahun ini disebut lebih ganas karena kondisi El Nino yang kuat. Sebagai penanda panas ekstrem regional, Hong Kong mencatat rekor suhu 36,9 derajat Celsius, dilansir BBC. Dengan proyeksi hujan ekstrem tersebut, risiko banjir dan longsor menjadi perhatian utama bagi warga di sepanjang jalur Dolphin, baik di Jepang maupun China, hingga badai benar-benar mereda.