ESENSIAL. ID – Beseprah dalam bahasa Kutai berarti makan bersama sambil duduk bersila di atas tikar. Tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kutai sejak dahulu. Masyarakat duduk berhadapan, sementara makanan dihidangkan di atas daun pisang yang disusun memanjang. Dari cara sederhana tersebut, Beseprah menghadirkan sebuah ruang perjumpaan, tempat orang-orang tidak hanya menikmati hidangan, tetapi juga bertemu dan berbagi cerita.
Tidak banyak catatan yang menjelaskan secara rinci mengenai asal-usul Beseprah. Namun, dalam perkembangannya, tradisi ini memiliki hubungan yang erat dengan rangkaian Upacara Erau yang telah diwariskan secara turun-temurun dalam sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara. Erau sendiri memiliki perjalanan sejarah yang panjang, yang dalam berbagai sumber sejarah Kutai dikaitkan dengan masa awal berdirinya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan pengangkatan Aji Batara Agung Dewa Sakti sebagai raja pertama.
Di tengah keterbatasan catatan tertulis mengenai asal-usul Beseprah, cerita yang diwariskan secara lisan oleh para tetuha atau sesepuh Kutai menjadi salah satu bagian penting dalam memahami bagaimana tradisi ini dimaknai oleh masyarakat.
Menurut cerita yang berkembang di kalangan tetuha Kutai, Beseprah dahulu berkaitan dengan kunjungan Sultan ke salah satu benua atau kampung yang berada dalam wilayah kekuasaannya. Kedatangan Sultan tidak sekadar menjadi sebuah kunjungan, tetapi juga menjadi momentum untuk berkumpul dan menjalin hubungan bersama rakyat.
Sultan bersama para pengawalnya membawa berbagai bahan makanan dari lingkungan kerajaan menuju kampung yang dikunjungi. Bahan-bahan tersebut kemudian dimasak bersama-sama dengan masyarakat setempat. Di sisi lain, masyarakat kampung juga turut mengambil sebagian hasil alam yang mereka miliki untuk diserahkan sebagai bagian dari jamuan.
Bagi masyarakat pada masa itu, kedatangan Sultan menjadi sebuah kehormatan. Namun, kehormatan tersebut tidak berhenti pada penyambutan secara seremonial. Ada perjumpaan yang lebih dekat antara pemimpin dan masyarakat. Mereka duduk bersama, menikmati hidangan yang sama, dan membuka ruang percakapan tanpa sekat.
Dari sini, Beseprah dapat dipahami bukan semata-mata sebagai tradisi makan bersama. Ia juga menjadi ruang untuk berbagi cerita, menyampaikan kesulitan yang dihadapi, saling mendengarkan, bertukar pandangan, memberikan solusi, dan saling menguatkan.
Filosofi yang kemudian melekat dalam Beseprah adalah “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.” Sebuah ungkapan yang menggambarkan suasana kebersamaan dan kedekatan. Ketika seseorang duduk di atas tikar dan menikmati hidangan bersama, sekat-sekat sosial seolah diletakkan untuk sementara. Yang hadir dipertemukan dalam satu ruang dan satu suasana.
Persiapan Beseprah pada masa dahulu juga memiliki suasana tersendiri. Karena dilaksanakan pada waktu sarapan, berbagai persiapan tentu telah dimulai bahkan sebelum matahari terbit. Masyarakat bersama-sama menyiapkan makanan, menata tempat, dan mempersiapkan berbagai hidangan yang nantinya akan dinikmati bersama.
Sajian yang dihidangkan pun beragam, terutama makanan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Kutai. Hidangan seperti gence ruwan, nasi kebuli, dan berbagai makanan lainnya menjadi bagian dari jamuan. Begitu pula dengan jajak atau kue khas Kutai seperti serabai, jajak lesung, roti gembong, dan beragam sajian lainnya.