Yang menarik, seluruh hidangan tersebut pada dasarnya bukan disiapkan untuk dinikmati oleh kelompok tertentu saja. Makanan dihidangkan sebagai jamuan bagi masyarakat dan seluruh orang yang hadir. Di situlah semangat Beseprah menemukan salah satu maknanya: apa yang tersedia di atas seprah adalah sesuatu yang dibagikan dan dinikmati bersama.

Karena itu, banyak tetua Kutai juga kerap mengingatkan bahwa Beseprah seharusnya menjadi sebuah hamparan yang terbuka. Bukan sekadar tempat makanan diletakkan, tetapi ruang yang memungkinkan lebih banyak orang untuk hadir dan merasakan kebersamaan.
“Bagi saya, Beseprah bukan hanya tentang bagaimana kita duduk dan makan bersama. Ada sejarah dan pesan sosial yang diwariskan di dalamnya. Para tetua Kutai banyak mengingatkan bahwa seprah itu seharusnya menjadi hamparan yang terbuka, tempat masyarakat bisa datang dan menikmati kebersamaan. Karena sesuatu yang dihidangkan dalam sebuah tradisi tentu akan memiliki makna yang lebih luas ketika ia dapat dinikmati dan dirasakan oleh banyak orang.”
Nilai tersebut menjadi menarik untuk direfleksikan oleh generasi muda, khususnya mahasiswa. Mengenal kebudayaan tidak cukup hanya dengan mengetahui nama dan bentuk sebuah tradisi. Lebih jauh, generasi muda perlu memahami nilai yang diwariskan di dalamnya: bagaimana masyarakat dahulu membangun hubungan, bagaimana kebersamaan dirawat, dan bagaimana sebuah tradisi dapat menjadi ruang untuk mempertemukan manusia.
Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan individual, pesan dari Beseprah justru terasa semakin relevan. Duduk bersama menjadi kesempatan untuk mendengarkan. Hidangan menjadi sarana untuk berbagi. Dan perjumpaan menjadi ruang untuk memahami satu sama lain.
Sebagai organisasi kemahasiswaan yang tumbuh di tengah masyarakat, PMII memiliki ruang untuk ikut hadir dalam proses tersebut. Kehadiran PMII dalam kegiatan kebudayaan tidak harus selalu dimaknai sebagai upaya untuk memberikan penilaian terhadap sebuah tradisi. Kehadiran itu dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: datang, melihat, mendengar, belajar, dan memahami masyarakat melalui kebudayaan yang tumbuh di sekitarnya.
Dalam kerangka al-‘adah muhakkamah, tradisi dan kebiasaan masyarakat memiliki ruang dalam kehidupan sosial selama nilai yang terkandung di dalamnya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip yang diyakini. Namun, Beseprah tidak harus dilihat hanya dari perspektif keagamaan. Ia juga dapat dibaca sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat Kutai yang menyimpan nilai sosial tentang keterbukaan, kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama.
“PMII bagi saya bukan hanya tempat untuk belajar tentang organisasi, tetapi juga ruang untuk belajar memahami lingkungan tempat kita hidup. Kita tidak harus selalu datang untuk mengubah apa yang sudah ada. Terkadang, kita perlu datang untuk mendengar, memahami sejarahnya, dan menemukan nilai yang masih relevan untuk kita rawat bersama.”
Beseprah kemudian menjadi lebih dari sekadar kegiatan makan bersama. Ia menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan generasi hari ini. Sebuah tradisi yang mengingatkan bahwa kebersamaan tidak selalu dibangun melalui sesuatu yang besar. Terkadang, ia tumbuh dari hal sederhana: duduk bersama, membuka ruang, berbagi hidangan, mendengarkan cerita, dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk ikut menikmati.
Di tengah perubahan zaman, mungkin pesan sederhana dari sebuah seprah menjadi semakin berarti: apa yang kita miliki akan memiliki arti yang lebih luas ketika dapat dibagikan dan menjadi jamuan bagi orang lain.
Bagi generasi muda dan PMII, merawat Beseprah bukan semata-mata mempertahankan bentuk sebuah tradisi. Lebih dari itu, ia adalah upaya menjaga semangat keterbukaan, kebersamaan, gotong royong, dan keramahtamahan yang hidup di dalamnya agar tetap menemukan tempat di tengah perubahan zaman.
Sebab, tradisi tidak hanya hidup karena terus dilaksanakan. Tradisi juga hidup ketika generasi setelahnya memahami makna yang diwariskan, kemudian menemukan cara untuk menjaganya tetap relevan. Dan mungkin, di situlah makna Beseprah hari ini: bukan sekadar bagaimana makanan dihamparkan, tetapi bagaimana ruang kebersamaan terus dibuka.