Beseprah: Menjaga Tradisi, Merawat Kebersamaan

Akhmad Fikri Zakaria (Sekretaris Umum PC PMII Kukar). Dok.PC PMII Kukar

ESENSIAL. ID – Beseprah dalam bahasa Kutai berarti makan bersama sambil duduk bersila di atas tikar. Tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kutai sejak dahulu. Masyarakat duduk berhadapan, sementara makanan dihidangkan di atas daun pisang yang disusun memanjang. Dari cara sederhana tersebut, Beseprah menghadirkan sebuah ruang perjumpaan, tempat orang-orang tidak hanya menikmati hidangan, tetapi juga bertemu dan berbagi cerita.

Tidak banyak catatan yang menjelaskan secara rinci mengenai asal-usul Beseprah. Namun, dalam perkembangannya, tradisi ini memiliki hubungan yang erat dengan rangkaian Upacara Erau yang telah diwariskan secara turun-temurun dalam sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara. Erau sendiri memiliki perjalanan sejarah yang panjang, yang dalam berbagai sumber sejarah Kutai dikaitkan dengan masa awal berdirinya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan pengangkatan Aji Batara Agung Dewa Sakti sebagai raja pertama.

Di tengah keterbatasan catatan tertulis mengenai asal-usul Beseprah, cerita yang diwariskan secara lisan oleh para tetuha atau sesepuh Kutai menjadi salah satu bagian penting dalam memahami bagaimana tradisi ini dimaknai oleh masyarakat.

Jasa Desain Rumah 3D Denah RAB

Menurut cerita yang berkembang di kalangan tetuha Kutai, Beseprah dahulu berkaitan dengan kunjungan Sultan ke salah satu benua atau kampung yang berada dalam wilayah kekuasaannya. Kedatangan Sultan tidak sekadar menjadi sebuah kunjungan, tetapi juga menjadi momentum untuk berkumpul dan menjalin hubungan bersama rakyat.

Sultan bersama para pengawalnya membawa berbagai bahan makanan dari lingkungan kerajaan menuju kampung yang dikunjungi. Bahan-bahan tersebut kemudian dimasak bersama-sama dengan masyarakat setempat. Di sisi lain, masyarakat kampung juga turut mengambil sebagian hasil alam yang mereka miliki untuk diserahkan sebagai bagian dari jamuan.

Bagi masyarakat pada masa itu, kedatangan Sultan menjadi sebuah kehormatan. Namun, kehormatan tersebut tidak berhenti pada penyambutan secara seremonial. Ada perjumpaan yang lebih dekat antara pemimpin dan masyarakat. Mereka duduk bersama, menikmati hidangan yang sama, dan membuka ruang percakapan tanpa sekat.

Dari sini, Beseprah dapat dipahami bukan semata-mata sebagai tradisi makan bersama. Ia juga menjadi ruang untuk berbagi cerita, menyampaikan kesulitan yang dihadapi, saling mendengarkan, bertukar pandangan, memberikan solusi, dan saling menguatkan.

Filosofi yang kemudian melekat dalam Beseprah adalah “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.” Sebuah ungkapan yang menggambarkan suasana kebersamaan dan kedekatan. Ketika seseorang duduk di atas tikar dan menikmati hidangan bersama, sekat-sekat sosial seolah diletakkan untuk sementara. Yang hadir dipertemukan dalam satu ruang dan satu suasana.

Persiapan Beseprah pada masa dahulu juga memiliki suasana tersendiri. Karena dilaksanakan pada waktu sarapan, berbagai persiapan tentu telah dimulai bahkan sebelum matahari terbit. Masyarakat bersama-sama menyiapkan makanan, menata tempat, dan mempersiapkan berbagai hidangan yang nantinya akan dinikmati bersama.

Sajian yang dihidangkan pun beragam, terutama makanan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Kutai. Hidangan seperti gence ruwan, nasi kebuli, dan berbagai makanan lainnya menjadi bagian dari jamuan. Begitu pula dengan jajak atau kue khas Kutai seperti serabai, jajak lesung, roti gembong, dan beragam sajian lainnya.


Yang menarik, seluruh hidangan tersebut pada dasarnya bukan disiapkan untuk dinikmati oleh kelompok tertentu saja. Makanan dihidangkan sebagai jamuan bagi masyarakat dan seluruh orang yang hadir. Di situlah semangat Beseprah menemukan salah satu maknanya: apa yang tersedia di atas seprah adalah sesuatu yang dibagikan dan dinikmati bersama.

Beseprah Menjaga Tradisi Merawat Kebersamaan
Masyarakat Berbondong-Bondong Datang Ramaikan Beseprah Erau Adat Kutai 2026. (Dok.Esensial ID).

Karena itu, banyak tetua Kutai juga kerap mengingatkan bahwa Beseprah seharusnya menjadi sebuah hamparan yang terbuka. Bukan sekadar tempat makanan diletakkan, tetapi ruang yang memungkinkan lebih banyak orang untuk hadir dan merasakan kebersamaan.

“Bagi saya, Beseprah bukan hanya tentang bagaimana kita duduk dan makan bersama. Ada sejarah dan pesan sosial yang diwariskan di dalamnya. Para tetua Kutai banyak mengingatkan bahwa seprah itu seharusnya menjadi hamparan yang terbuka, tempat masyarakat bisa datang dan menikmati kebersamaan. Karena sesuatu yang dihidangkan dalam sebuah tradisi tentu akan memiliki makna yang lebih luas ketika ia dapat dinikmati dan dirasakan oleh banyak orang.”

Nilai tersebut menjadi menarik untuk direfleksikan oleh generasi muda, khususnya mahasiswa. Mengenal kebudayaan tidak cukup hanya dengan mengetahui nama dan bentuk sebuah tradisi. Lebih jauh, generasi muda perlu memahami nilai yang diwariskan di dalamnya: bagaimana masyarakat dahulu membangun hubungan, bagaimana kebersamaan dirawat, dan bagaimana sebuah tradisi dapat menjadi ruang untuk mempertemukan manusia.

Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan individual, pesan dari Beseprah justru terasa semakin relevan. Duduk bersama menjadi kesempatan untuk mendengarkan. Hidangan menjadi sarana untuk berbagi. Dan perjumpaan menjadi ruang untuk memahami satu sama lain.

Sebagai organisasi kemahasiswaan yang tumbuh di tengah masyarakat, PMII memiliki ruang untuk ikut hadir dalam proses tersebut. Kehadiran PMII dalam kegiatan kebudayaan tidak harus selalu dimaknai sebagai upaya untuk memberikan penilaian terhadap sebuah tradisi. Kehadiran itu dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: datang, melihat, mendengar, belajar, dan memahami masyarakat melalui kebudayaan yang tumbuh di sekitarnya.

Dalam kerangka al-‘adah muhakkamah, tradisi dan kebiasaan masyarakat memiliki ruang dalam kehidupan sosial selama nilai yang terkandung di dalamnya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip yang diyakini. Namun, Beseprah tidak harus dilihat hanya dari perspektif keagamaan. Ia juga dapat dibaca sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat Kutai yang menyimpan nilai sosial tentang keterbukaan, kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama.

“PMII bagi saya bukan hanya tempat untuk belajar tentang organisasi, tetapi juga ruang untuk belajar memahami lingkungan tempat kita hidup. Kita tidak harus selalu datang untuk mengubah apa yang sudah ada. Terkadang, kita perlu datang untuk mendengar, memahami sejarahnya, dan menemukan nilai yang masih relevan untuk kita rawat bersama.”

Beseprah kemudian menjadi lebih dari sekadar kegiatan makan bersama. Ia menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan generasi hari ini. Sebuah tradisi yang mengingatkan bahwa kebersamaan tidak selalu dibangun melalui sesuatu yang besar. Terkadang, ia tumbuh dari hal sederhana: duduk bersama, membuka ruang, berbagi hidangan, mendengarkan cerita, dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk ikut menikmati.

Di tengah perubahan zaman, mungkin pesan sederhana dari sebuah seprah menjadi semakin berarti: apa yang kita miliki akan memiliki arti yang lebih luas ketika dapat dibagikan dan menjadi jamuan bagi orang lain.

Bagi generasi muda dan PMII, merawat Beseprah bukan semata-mata mempertahankan bentuk sebuah tradisi. Lebih dari itu, ia adalah upaya menjaga semangat keterbukaan, kebersamaan, gotong royong, dan keramahtamahan yang hidup di dalamnya agar tetap menemukan tempat di tengah perubahan zaman.

Sebab, tradisi tidak hanya hidup karena terus dilaksanakan. Tradisi juga hidup ketika generasi setelahnya memahami makna yang diwariskan, kemudian menemukan cara untuk menjaganya tetap relevan. Dan mungkin, di situlah makna Beseprah hari ini: bukan sekadar bagaimana makanan dihamparkan, tetapi bagaimana ruang kebersamaan terus dibuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita & Artikel Terkait

Lahir dan tumbuh di tanah Nusantara, pusat perubahan menuju ibu kota masa depan Indonesia.
Menyuarakan fakta dan cerita dari berbagai penjuru negeri dalam satu ruang informasi.