

ESENSIAL.ID – Di balik sosok yang dikenal dengan panggilan akrab GusNu, tersimpan cerita sederhana namun penuh makna. Nama aslinya Agus Prasetyo, tetapi julukan yang melekat hingga kini justru lahir dari candaan masa kuliah yang tak pernah ia sangka akan menjadi identitas yang dikenal banyak orang.
Cerita itu bermula ketika Agus masih menempuh pendidikan di Fakultas Agama Islam Universitas Kutai Kartanegara. Dalam setiap diskusi atau argumentasi, ia kerap menggunakan kata “anu” sebagai jeda atau pengisi kalimat saat berpikir. Kebiasaan itu rupanya menjadi bahan gurauan teman-teman seangkatannya.
Tanpa diduga, rekan-rekannya kemudian menjulukinya “Agus Anu.” Julukan itu awalnya sekadar candaan kampus, tetapi justru terus melekat bahkan setelah ia menyelesaikan pendidikan. Seiring waktu, panggilan itu berkembang menjadi lebih akrab di telinga banyak orang: GusNu.
Siapa sangka, dari sosok mahasiswa yang dikenal dengan kebiasaan unik itu, Agus Prasetyo kemudian dipercaya mengemban amanah besar sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Saunah di Tenggarong.
Di bawah bimbingannya, pesantren tersebut berkembang menjadi tempat pembinaan para penghafal Al-Qur’an. Banyak santri dan santriwati yang berhasil menamatkan hafalan Al-Qur’an, bahkan beberapa di antaranya mampu meraih prestasi dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) pada cabang hafalan.
Namun yang membuat sosok GusNu begitu menginspirasi bukan hanya keberhasilan para santrinya, melainkan sikap hidupnya yang sederhana. Ia dikenal sebagai pribadi yang jauh dari keinginan untuk mencari validasi atau pengakuan dari lingkungan.
Dalam kesehariannya, GusNu lebih memilih bekerja dalam diam. Ia menaruh perhatian penuh pada pendidikan para santri serta pengembangan pesantren yang diasuhnya.
Menariknya, sejumlah santri yang telah lulus dari pesantren tersebut justru memilih kembali untuk mengabdi. Mereka membantu mengembangkan pondok pesantren sebagai bentuk rasa hormat dan kedekatan dengan sosok pengasuh yang mereka teladani.
Dalam sebuah kunjungan tim Esensial.id ke pesantren yang berlokasi di Jalan Loa Ipuh, Tenggarong, GusNu sempat berbagi pandangan hidup yang menjadi pegangan dalam menjalani perannya.
Ia mengutip sebuah hadis Rasulullah SAW yang sangat dikenal:
“Khairunnas Anfa’uhum Linnas”
sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
(HR. Ahmad)
Menurutnya, pesan sederhana dari hadis tersebut menjadi spirit utama dalam menjalani kehidupan.
“Bagi saya, hidup ini memang harus memberi manfaat untuk orang lain. Saya tidak terlalu memikirkan apakah nanti dimanfaatkan orang atau tidak. Justru di situlah keistimewaan kita, ketika orang-orang di sekitar bisa mendapatkan manfaat dari keberadaan kita,” tuturnya.
Pandangan itulah yang membuat GusNu tetap menjalani perannya dengan ketulusan. Ia tidak sibuk mengejar popularitas, tetapi fokus pada hal yang menurutnya jauh lebih penting: menanamkan nilai Al-Qur’an dan membentuk generasi yang bermanfaat bagi sesama.
Kisah GusNu menjadi pengingat bahwa pengaruh seseorang tidak selalu lahir dari panggung besar atau sorotan publik. Terkadang, perubahan justru tumbuh dari ketulusan langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten.
Dari julukan sederhana “Agus Anu” di bangku kuliah, kini ia dikenal sebagai GusNu, sosok pengasuh pesantren yang terus menebar manfaat tanpa pernah merasa perlu membuktikan apa pun kepada dunia.