Diplomasi Meja Makan dan Nyanyian Bapak

Oleh : Achmad Husnin Al Muafi

Sore itu di teras rumah, aroma pisang goreng buatan Ibu baru saja menyeruak, bersaing dengan harum tanah yang basah sehabis hujan. Dilah, bocah berusia lima tahun dengan kuncir kuda yang sedikit miring, sedang asyik menyusun balok kayu sambil sesekali mengoceh sendiri. Di sampingnya, Bapak duduk santai sambil menyeruput kopi hitam, sementara Ibu sibuk melipat mukena di ruang tengah yang pintunya terbuka lebar.

“Dilah,” panggil Bapak pelan, suaranya mengandung nada usil yang sudah sangat dikenal Ibu. “Dilah sayang nggak sama Ustadzah Dilah di tempat ngaji?”

Dilah berhenti bermain. Ia menatap Bapaknya dengan mata bulat yang polos, lalu menggeleng mantap. “Enggak.”

Bapak pura-pura terkejut, alisnya diangkat tinggi-tinggi. “Lho, kenapa? Bapak loh sayang sama Ustadzah Dilah. Orangnya kan baik, sabar kalau ngajar Dilah alif-ba-ta.”

Dilah mengerucutkan bibirnya. Alasan seorang anak kecil biasanya sederhana, namun sangat menghunjam. “Karna bukan Ibu itu. Ibu ya cuma satu, yang di sana itu,” tunjuk Dilah ke arah Ibu yang mulai melongokkan kepala dari balik pintu.

Ibu tersenyum mendengar pembelaan putri kecilnya. Ia berjalan mendekat, duduk di kursi kayu di samping Dilah. “Dilah sayang, Ustadzah itu kan juga Ibu. Tapi Ibu Dilah kalau di tempat ngaji. Jadi, kalau di sana, Dilah harus sayang dan nurut sama beliau seperti sama Ibu di sini,” jelas Ibu dengan lembut, mencoba menanamkan pengertian tentang sosok pendidik.

Bapak manggut-manggut, tapi matanya berbinar nakal. Alih-alih mendukung penjelasan Ibu, Bapak justru menyandarkan punggungnya ke kursi, memandang langit-langit teras, dan mulai bergumam lirih. Namun, gumaman itu perlahan berubah menjadi nyanyian dengan nada yang sangat familiar di telinga orang dewasa.

“Senangnya dalam hati… kalau beristri dua…”

Kalimat itu terputus, tapi efeknya instan. Suasana teras yang tadinya hangat mendadak terasa seperti di dalam freezer. Ibu, yang baru saja hendak menyuapkan potongan pisang goreng ke mulutnya, mendadak mematung. Matanya melirik tajam ke arah Bapak—tipe lirikan yang bisa membuat air mendidih tanpa kompor.

Dilah, yang tidak mengerti konsep “poligami” apalagi lirik lagu Ahmad Dhani, hanya menatap Bapaknya bingung. “Bapak nyanyi apa? Beristri dua itu apa? Dua Ibu?”

Bapak langsung tersedak kopinya sendiri. Ia tidak menyangka Dilah akan langsung menangkap kata kuncinya. “Eh, itu… maksudnya… anu, Dilah…”

Ibu meletakkan piring pisang goreng dengan bunyi klak yang cukup keras di atas meja kayu. Ia tersenyum, tapi senyum itu adalah jenis senyum “waspada level satu”.

“Oh, jadi Bapak senang kalau istrinya dua? Berarti satu Ibu di rumah, satu lagi Ustadzah di tempat ngaji gitu maksudnya?” tanya Ibu dengan nada suara yang sangat manis, terlalu manis hingga terdengar berbahaya.

Bapak mencoba memutar otak secepat prosesor komputer tercanggih. “Bukan gitu, Bu. Itu kan cuma lagu. Lagunya Triad itu lho, yang judulnya Madu Tiga. Eh, maksudnya bukan madu yang itu… maksud Bapak, lagunya kan cuma bercanda.”

“Bercanda ya, Pak?” Ibu melipat tangannya di dada. “Dilah, dengar ya. Bapak tadi nyanyi kalau punya Ibu dua itu senang. Padahal kan kata Dilah tadi, Ibu cuma boleh satu, kan?”

Dilah langsung berdiri, memegang pinggangnya dengan kedua tangan kecilnya—meniru gaya Ibu kalau lagi marah. “Bapak nakal! Nggak boleh dua! Nanti kalau ada dua Ibu, siapa yang mandiin Dilah? Siapa yang masakin Dilah? Nanti Ibunya berantem rebutan Bapak!”

Bapak terperangah. Logika Dilah sungguh di luar dugaan. “Nggak nakal, Sayang. Bapak cuma…”

“Cuma ngetes nyali?” potong Ibu sambil berdiri. “Bagus kalau gitu. Karena Bapak sedang senang hatinya, sepertinya Bapak punya energi ekstra buat cuci piring bekas makan tadi, sekalian jemuran yang di belakang belum diangkat. Kan senangnya dalam hati, jadi kerjanya harus pakai hati juga, ya Pak?”

Bapak hanya bisa melongo melihat Ibu masuk kembali ke dalam rumah dengan langkah anggun namun penuh kemenangan. Dilah menyusul di belakang Ibunya, sambil menoleh ke arah Bapak dan menjulurkan lidahnya. “Wlee! Bapak cuci piring!”

Tinggallah Bapak sendirian di teras dengan segelas kopi yang mulai dingin dan piring pisang goreng yang sudah dibawa masuk oleh Ibu. Ia menghela napas panjang. Taktik menggoda Ibu lewat jalur “Lagu Berbahaya” ternyata selalu berakhir dengan kekalahan telak.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara gemericik air dari dapur. Bapak benar-benar sedang mencuci piring. Ibu lewat sambil membawa keranjang cucian, lalu berbisik pelan di dekat telinga Bapak, “Gimana Pak? Masih senang dalam hatinya? Atau mau lanjut ke bait kedua yang ‘seperti dunia ana yang punya’?”

Bapak menggeleng cepat. “Enggak, Bu. Ampun. Dunia ana ternyata punya Ibu sepenuhnya.”

Dilah yang tiba-tiba muncul di pintu dapur ikut menimpali, “Bapak jangan nyanyi itu lagi ya. Nanti kalau ada Ibu dua, Bapak tidurnya di luar!”

Tawa Ibu pecah mendengar ancaman Dilah. Sore itu, meskipun sempat ada “ketegangan diplomatik” akibat lirik lagu yang salah tempat, rumah itu kembali hangat. Bapak belajar satu hal penting hari itu: jangan pernah mencoba bercanda soal “tambah personel” di depan anak yang sangat setia pada Ibunya, dan di depan istri yang punya pendengaran setajam radar militer.

Sejak saat itu, kalau Bapak ingin bernyanyi di depan Ibu dan Dilah, ia lebih memilih lagu Pelangi-Pelangi atau Balonku. Jauh lebih aman, minim risiko, dan yang pasti—tidak akan membuatnya berakhir di depan bak cuci piring sepanjang sore.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita & Artikel Terkait

Berpegang pada filosofi “Menjaga Inti Informasi.” Kami percaya bahwa setiap peristiwa memiliki substansi yang harus disampaikan secara jernih dan utuh, tanpa distorsi maupun sensasionalisme. Karena itu, setiap konten diproduksi dengan komitmen pada akurasi, relevansi, dan keberimbangan, agar publik memperoleh informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga bermakna.

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.