

Oleh : Achmad Husnin Al Muafi
Malam itu, jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB. Suasana rumah yang tadinya tenang, mendadak berubah menjadi agak riuh rendah karena Bapak baru saja pulang dari agenda Khataman Al-Qur’an di kediaman warga salah satu Jama’ah Tenggarong—salah satu titik kegiatan safari Ramadhan DPC Rabithah Alawiyah Kutai Kartanegara. Bapak tampak lelah namun wajahnya berseri-seri karena berhasil menyelesaikan satu lagi kewajiban spiritual di bulan suci ini.
Ibu sedang sibuk menyiapkan keperluan sahur di dapur, sementara Dilah sudah berbaring di tempat tidur namun matanya masih mengerjap-ngerjap lucu.
“Bu, Bapak jalan dulu ya. Mau ke tempat teman sebentar, ada urusan sedikit,” pamit Bapak sambil menyambar kunci motor di meja. Bapak memang tipe orang yang tidak bisa diam, selalu ada saja urusan dengan teman-teman majelisnya, apalagi di bulan Ramadhan yang penuh dengan agenda silaturahmi.
Ibu hanya mengangguk pelan tanpa menghentikan aktivitasnya memotong sayuran. “Iya, hati-hati Pak. Jangan kelamaan, nanti keburu ngantuk.”
“Hati-hati Bapak!” teriak Dilah dari dalam kamar dengan suara imutnya.
Bapak pun bergegas pergi. Di tengah jalan, ia baru teringat satu hal krusial. Pesanan ikan nila segar untuk lauk sahur beberapa hari ke depan sebanyak Rp300.000 ternyata masih dititipkan di basecamp salah satu temannya. Bapak panik, membayangkan nila-nila itu akan bau kalau tidak segera ditangani. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengambilnya dan menitipkannya sebentar di kulkas basecamp yang lebih dingin, sebelum akhirnya memutuskan pulang.
Setelah mengurus ikan-ikan itu, Bapak pulang ke rumah, makan sahur dengan lahap, lalu tertidur pulas karena kelelahan setelah seharian beraktivitas dan mengikuti khataman hingga larut malam.
Jarum jam menunjukkan pukul 03.30 pagi, saat alarm sahur berbunyi nyaring. Ibu membangunkan Dilah untuk ikut makan sahur. Namun, Dilah masih mengantuk dan belum sadar sepenuhnya. Ia duduk di meja makan dengan mata terpejam, mencoba menyuapkan nasi ke mulutnya. Tiba-tiba, ingatannya tentang percakapan Bapak sebelum pergi malam tadi muncul.
Dilah membuka matanya lebar-lebar, menatap Ibu dengan tatapan penuh selidik.
“Ibu, ikannya sudah datang?” tanya Dilah tiba-tiba, suaranya agak parau karena baru bangun tidur.
Ibu yang sedang menuang teh hangat ke dalam gelas menoleh heran. “Ikan? Ikan apa nak?”
“Ikan yang mau dimasak Bapak tadi,” jawab Dilah polos.
Ibu teringat cerita Bapak tentang nila seharga tiga ratus ribu tadi. “Oh, ikan nila itu? Sudah nak, sudah datang tadi dibawa Bapak.”
Dilah terdiam sebentar, mencerna informasi tersebut. Lalu, wajahnya berubah menjadi sedih dan serius. “Tapi… ikannya mati?”
Ibu tersenyum mendengar kepolosan anaknya. “Iya nak, sudah mati pas dibeli Bapak.”
Namun, imajinasi anak kecil bekerja dengan cara yang berbeda. Dilah tidak mengerti konsep ikan konsumsi yang memang dijual dalam keadaan mati. Bayangannya langsung tertuju pada adegan kekerasan yang mungkin terjadi pada ikan nila malang tersebut.
“Kenapa mati? Di potong teman Bapak kah? Atau di pukul teman Bapak kah?” tanya Dilah beruntun dengan nada panik, mata bulatnya berkaca-kaca membayangkan teman Bapak yang jahat memukul ikan-ikan itu.
Ibu yang mendengar pertanyaan konyol itu langsung menahan tawa. Ia terbayang ekspresi teman Bapak yang panik harus menyimpan ikan nila seharga tiga ratus ribu di kulkas mereka, lalu dituduh membunuh ikan tersebut oleh seorang bocah lima tahun.
Ibu hanya bisa senyum-senyum sendiri, berusaha menahan tawa agar tidak membangunkan Bapak yang sedang mendengkur halus di kamar. “Enggak nak, enggak dipukul. Teman Bapak baik kok.”
“Terus kenapa mati?” desak Dilah, tidak mau kalah.
“Ikannya capek, terus tidur selamanya,” jawab Ibu asal, mencari jawaban yang paling aman untuk logika anak kecil.
Dilah merenung sebentar, lalu mengangguk pelan. “Oh… kasihan ya ikan nila.”
Pagi harinya, cerita kepolosan Dilah ini menjadi bahan tertawaan di meja makan. Bapak yang baru bangun tidur kebingungan melihat Ibu senyum-senyum sendiri sambil menyuapi Dilah. Setelah diceritakan, Bapak akhirnya tertawa terbahak-bahak, membuat suasana sahur menjadi cair dan penuh canda.
Ternyata, di balik kesibukan agenda religi di Kutai Kartanegara pada bulan Ramadhan 2026 ini, momen-momen kecil penuh kepolosan di rumah adalah anugerah terbesar. Kejujuran Dilah yang kritis berhasil mencairkan ketegangan cerita “berbahaya” sebelumnya, dan membuat Bapak sadar bahwa tugas terberatnya bukan hanya urusan umat, tapi juga menjelaskan logika dunia kepada putri kecilnya yang berhati lembut.