ESENSIAL.ID – Program Jemput Jodoh Halal (JJH) yang digagas Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tenggarong tidak dipungut biaya pada tahap awal pelaksanaannya. Hal tersebut disampaikan Kepala KUA Tenggarong, Hairillah, saat menerima kunjungan media Esensial.ID, Rabu (30/9/2026).
Hairillah menjelaskan, masyarakat yang mengikuti program Jemput Jodoh Halal tidak dikenakan biaya mulai dari proses pendaftaran hingga tahapan awal perkenalan dan edukasi. Program tersebut dirancang untuk membantu masyarakat menemukan pasangan secara lebih terarah, sesuai syariat Islam sekaligus mengikuti ketentuan hukum dan regulasi pernikahan di Indonesia.
“Semua pada tahap awal ini tidak ada yang dipungut biaya,” ujar Hairillah.
Menurutnya, persoalan biaya baru akan dibahas ketika peserta telah sampai pada tahapan pernikahan yang direncanakan melalui konsep “Married On The Road” dimana proses ijab kabul dilaksanakan di atas kendaraan berukuran besar yang telah disiapkan. Dalam tahap tersebut, KUA Tenggarong berencana membangun kolaborasi dengan berbagai komunitas dan vendor yang berkaitan dengan kebutuhan pernikahan.
Vendor yang akan dijajaki antara lain penyedia jasa tata rias atau make-up artist, katering, dekorasi pelaminan, hingga pihak lain yang dapat mendukung pelaksanaan acara pernikahan.
Hairillah mengatakan, konsep kolaborasi tersebut diharapkan dapat menekan biaya yang harus dikeluarkan calon pasangan. Jika beberapa pasangan menikah dalam satu rangkaian kegiatan, kebutuhan yang biasanya ditanggung secara individual dapat dikemas secara bersama.

“Misalkan ada lima atau tujuh pasang, tidak mungkin masing-masing pasang itu biayanya seperti biasanya. Kalau tujuh orang kan bisa kolaborasi,” jelasnya.
Selain menggandeng vendor, KUA Tenggarong juga mengupayakan dukungan dari para donatur dan Kementerian Agama Kabupaten Kutai Kartanegara. Menurut Hairillah, dukungan tersebut diperlukan karena pelaksanaan program pada tahap akhir membutuhkan fasilitas dan pembiayaan yang lebih besar.
Salah satu konsep yang disiapkan adalah pelaksanaan kegiatan taaruf di luar kantor KUA. Hairillah menyebut lokasi yang tengah dipertimbangkan antara lain Mal Pelayanan Publik (MPP), sementara prosesi “Married On The Road” direncanakan mengambil rute dari kawasan Titik Nol Tenggarong menuju kawasan Jembatan Putar Balik dan kembali ke titik kegiatan.
“Kemarin kami sudah menghadap kepada Kemenag dan beliau sangat mendukung kegiatan ini. Beliau juga bersedia atau siap untuk memberikan dukungan dana terkait dengan kegiatan ini,” kata Hairillah.
Ia menyebut Jemput Jodoh Halal merupakan konsep yang masih tergolong baru. Bahkan, menurut Hairillah, program dengan pola serupa belum pernah didengarnya diterapkan secara nasional dengan konsep yang sama.
Hairillah membandingkannya dengan program “Golek Garwo” yang diketahuinya pernah dikembangkan di Yogyakarta dan Jakarta. Namun, menurut dia, terdapat perbedaan konsep karena program JJH KUA Tenggarong sejak awal digagas dan dijalankan oleh penghulu serta penyuluh agama dengan melibatkan KUA sebagai penggerak utama.
“Kalau ini kan berbeda dengan mereka. Kami yang memulai dari proses seperti ini, kemudian nanti bekerja sama dengan vendor-vendor,” ujarnya.
Program Jemput Jodoh Halal sendiri menargetkan sedikitnya 25 pasangan pada tahap perdana. Peserta akan melalui sejumlah tahapan, mulai dari pendaftaran, pengisian biodata, proses saling mengenal, edukasi, hingga kegiatan bersama yang membahas psikologi rumah tangga, ketahanan keluarga, dan kesehatan calon pengantin.
Jika peserta telah menemukan kecocokan dan menyatakan siap melanjutkan hubungan ke pernikahan, KUA Tenggarong akan memfasilitasi tahapan berikutnya sesuai konsep yang telah disiapkan.
Hairillah berharap program Jemput Jodoh Halal tidak berhenti pada pelaksanaan perdana. Ia ingin program tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan dan dikembangkan dalam beberapa tahap berikutnya.
“Harapan saya, program kami bisa berjalan secara kontinu, terus-menerus, karena kami melihat banyak sisi baiknya. Mudah-mudahan bisa terus berlanjut, ada JJH tahap dua, part 2, part 3, part 4 dan seterusnya,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak menjadikan pernikahan sebagai sesuatu yang menakutkan selama telah memiliki kesiapan yang memadai.
Menurut Hairillah, ketika seseorang telah mencapai usia minimal yang dipersyaratkan, memiliki kesiapan secara finansial dan memenuhi kriteria untuk menikah, maka pernikahan dapat dipertimbangkan dengan tetap melibatkan dan memperoleh izin kedua orang tua.
“Menikah itu tidak menyeramkan seperti yang dibayangkan oleh anak muda sekarang ini. Kalau memang sudah mapan secara umur dan finansial, segeralah ajukan permohonan nikah ke KUA terdekat,” pesannya.
Melalui program Jemput Jodoh Halal, KUA Tenggarong berharap masyarakat, khususnya generasi muda, memiliki alternatif untuk menemukan pasangan melalui proses yang lebih terarah, mendapatkan edukasi sebelum menikah, serta melaksanakan pernikahan yang sesuai dengan ketentuan agama dan tercatat secara resmi oleh negara.(Usw)