KUA Tenggarong juga akan membentuk grup khusus bagi peserta yang telah terhimpun. Grup tersebut menjadi ruang edukasi dan komunikasi, dengan materi yang akan diberikan oleh penghulu maupun penyuluh agama. Peserta dapat menyampaikan pertanyaan terkait hubungan, pernikahan, maupun persiapan membangun keluarga untuk mendapatkan arahan sesuai kapasitas dan bidang keilmuan pendamping program.
Hairillah mengatakan, tahap berikutnya akan mempertemukan para peserta dalam sebuah kegiatan bersama. Mereka akan mendapatkan materi mengenai psikologi rumah tangga dari tenaga ahli, ketahanan keluarga, serta kesehatan calon pengantin. Rangkaian tersebut dirancang agar peserta tidak hanya menemukan pasangan, tetapi juga memiliki pemahaman mengenai kehidupan rumah tangga sebelum memutuskan melangkah ke jenjang pernikahan.
Untuk tahap awal, KUA Tenggarong menargetkan sedikitnya 25 pasangan peserta. Jika antusiasme masyarakat tinggi, program tersebut akan dilanjutkan ke tahap berikutnya dengan jumlah peserta yang dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan dan partisipasi masyarakat.

Pada tahap akhir, peserta yang telah berkomunikasi dan menemukan kecocokan akan kembali diberikan ruang untuk menentukan pilihan secara terbuka. Mereka akan diminta menyampaikan alasan memilih calon pasangan serta memastikan kesediaan menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing sebelum melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.
Jika pasangan telah menyatakan kesiapan untuk menikah, KUA Tenggarong menyiapkan konsep fasilitasi pernikahan yang diberi nama “Married On The Road”. Dalam konsep tersebut, prosesi ijab kabul akan dilaksanakan di atas kendaraan berukuran besar yang telah disiapkan, dengan melibatkan penghulu, saksi, serta perlengkapan pernikahan. Setelah perjalanan berakhir, pasangan akan menuju lokasi yang telah disiapkan untuk melanjutkan rangkaian resepsi.