Menakar ketulusan “Polantas Menyapa” di jalan raya

Foto: Dokumentasi kegiatan program Polantas Menyapa. (dok. korlantas polri)

Hubungan masyarakat dengan Polisi Lalu Lintas tidak pernah benar-benar datar. Di jalan raya, interaksi sering kali terjadi dalam situasi tegang. Tilang, razia, atau kecelakaan. Citra aparat yang kaku dan cenderung represif pun telanjur melekat dalam ingatan publik.

Karena itu, ketika Korlantas Polri meluncurkan program “Polantas Menyapa”, publik tentu menaruh perhatian. Program ini diklaim sebagai bagian dari semangat transformasi menuju Polri yang lebih humanis, sejalan dengan visi Presisi, Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan yang digaungkan institusi kepolisian.

Secara ide, ini langkah yang patut diapresiasi. Di era digital, kepercayaan publik adalah mata uang utama bagi institusi negara. Tanpa public trust, sebaik apa pun regulasi dibuat, ia akan selalu dipandang dengan curiga. Mengubah pendekatan dari “ditakuti” menjadi “didengar” adalah sinyal bahwa Polri memahami tantangan zaman.

Namun, kita juga perlu jujur: perubahan citra tidak cukup dibangun lewat slogan atau konten media sosial. Mengubah budaya kerja bukan perkara satu dua bulan, apalagi sekadar seremoni peluncuran program.

Ada setidaknya dua hal yang menurut redaksi Esensial.id perlu benar-benar dibuktikan.

Pertama, konsistensi di lapangan. Sapaan ramah tentu menyenangkan di ruang pelayanan resmi seperti Samsat atau Satpas. Tetapi ujian sesungguhnya ada di jalan raya, di persimpangan padat, di razia malam hari, atau ketika berhadapan dengan pelanggar yang emosional. Apakah pendekatan humanis tetap dijaga saat situasi tidak ideal? Di sinilah publik akan menilai ketulusan program ini.

Kedua, transparansi hasil. Jika tujuan akhirnya adalah meningkatkan kepuasan masyarakat dan menekan angka kecelakaan, maka datanya harus dibuka secara berkala. Publik berhak tahu: apakah benar ada perubahan signifikan? Tanpa data yang mudah diakses dan bisa diverifikasi, program sebaik apa pun akan sulit dipercaya sepenuhnya.

Kita sepakat, keramahan adalah awal yang baik. Tetapi masyarakat menunggu lebih dari sekadar senyum dan sapaan. Yang ditunggu adalah pelayanan bebas pungli, penegakan hukum yang tidak tebang pilih, dan rasa aman yang benar-benar terasa saat berkendara.

“Polantas Menyapa” bisa menjadi titik balik hubungan antara aparat dan masyarakat. Namun ia juga bisa berakhir sebagai program yang bagus di atas kertas, tetapi hambar di praktik. Semua kembali pada komitmen internal dan keberanian untuk berubah secara sistemik.

Kami di Esensial.id memilih untuk mengapresiasi, sembari tetap kritis. Karena dalam demokrasi yang sehat, dukungan dan pengawasan harus berjalan beriringan. Kini, publik menanti: apakah sapaan itu akan berlanjut menjadi dialog yang tulus dan pelayanan yang konsisten, atau sekadar basa-basi institusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita & Artikel Terkait