Perbedaan Hari Raya: Menjaga Kedewasaan Beragama dan Persatuan Umat

Pengasuh Ponpes Al-Hurro Tenggarong, Rahmadi Wirantanus. (Foto: Esensial.iD)

Oleh: Rahmadi Wirantanus

Perbedaan penentuan Hari Raya antara organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah merupakan realitas yang hampir rutin terjadi dalam kehidupan umat Islam di Indonesia. Perbedaan ini bukanlah bentuk pertentangan, melainkan cerminan dari kekayaan metodologi ijtihad dalam memahami nash dan realitas astronomi.

Nahdlatul Ulama menggunakan pendekatan rukyatul hilal dengan prinsip imkanur rukyah, sementara Muhammadiyah menggunakan hisab dengan metode wujudul hilal. Kedua pendekatan ini memiliki dasar syar’i yang kuat serta legitimasi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, perbedaan yang muncul sejatinya berada dalam ranah furu’ (cabang), bukan pada aspek prinsip (ushul) ajaran Islam.

Dalam perspektif yang lebih luas, perbedaan ini justru menunjukkan bahwa Islam memiliki ruang fleksibilitas yang memungkinkan umatnya beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan pijakan pada nilai-nilai wahyu. Di sinilah pentingnya kedewasaan beragama, yakni kemampuan untuk menerima perbedaan tanpa kehilangan sikap saling menghormati.

Sebagai bagian dari umat Islam Indonesia, saya memandang bahwa sikap terbaik dalam menyikapi perbedaan ini adalah dengan menjunjung tinggi ukhuwah Islamiyah. Mengikuti keputusan organisasi atau pemerintah adalah pilihan yang sah, selama tetap disertai penghormatan kepada pihak lain yang berbeda. Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling menyalahkan, apalagi memicu konflik sosial di tengah masyarakat.

Dalam konteks ini, Pondok Pesantren Al Hurro secara kelembagaan mengambil sikap dengan mengikuti hasil sidang isbat Pemerintah Republik Indonesia sebagai bentuk komitmen terhadap persatuan umat dan ketaatan pada otoritas yang sah. Sikap ini bukan untuk menafikan perbedaan, tetapi justru sebagai ikhtiar menjaga harmoni sosial dan kebersamaan dalam pelaksanaan ibadah.

Lebih dari itu, momentum Hari Raya sejatinya adalah ruang untuk memperkuat nilai-nilai spiritual dan sosial: mempererat silaturahmi, membersihkan hati, dan membangun harmoni. Akan menjadi ironi jika perbedaan tanggal justru mengaburkan makna persatuan yang menjadi inti ajaran Islam.

Pada akhirnya, perbedaan adalah keniscayaan, tetapi persatuan adalah komitmen yang harus terus dirawat. Umat Islam Indonesia telah lama dikenal sebagai komunitas yang mampu hidup dalam keberagaman dengan damai. Tradisi ini perlu terus dijaga, agar perbedaan tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan kekuatan untuk memperkaya cara kita memahami dan mengamalkan agama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita & Artikel Terkait