
Oleh: Achmad Husnin Al-Muafi
Jika Hasan Hanafi masih menyaksikan hari ini, mungkin ia akan menulis bahwa “Tuhan sedang disekap di dalam brankas oligarki.” Di saat para arsitek kekuasaan sibuk melakukan operasi plastik terhadap wajah undang-undang agar tampak cantik bagi investor, kita butuh lebih dari sekadar demonstrasi; kita butuh bedah nalar total.
Dalam rekayasa sosial hari ini, bahasa telah mengalami pembusukan yang akut. Hanafi menuntut kita untuk jujur pada realitas.
Analisis Kritis: Saat penguasa berbisik tentang “Sinergi”, nalar Kiri Islam kita harus berteriak: “Itu Kolusi!”. Saat mereka memoles “Regenerasi”, kita harus menunjuk hidungnya dan berkata: “Itu Nepotisme!”.
Tujuan: Kita harus merebut kembali kamus bahasa rakyat. Jangan biarkan nurani kita ditidurkan oleh istilah-istilah “wangi” yang sebenarnya digunakan untuk membungkus bangkai kebijakan.
Hanafi dalam Min al-Aqidah ila al-Thawrah menegaskan bahwa teologi bukan untuk memuja langit, tapi untuk membebaskan bumi.
Analisis Kritis: Lawan “Teologi Langit” yang selalu menyuruh kita bersabar saat hak kita dicuri. Kita butuh Teologi Perlawanan. Katakan pada mereka bahwa Tuhan tidak turun ke bumi untuk merestui dinasti, tapi untuk membela setiap jengkal tanah petani yang dirampas regulasi.
Tujuan: Pastikan agama tidak lagi menjadi “obat bius” (opium), melainkan menjadi bahan bakar yang membakar semangat rakyat untuk menuntut keadilan yang hakiki.
Hanafi menciptakan Oksidentalisme untuk membedah nalar penjajah. Hari ini, “Barat” yang menjajah itu bernama Nalar Teknokratik yang lahir dari rahim kekuasaan lokal.
Analisis Kritis: Jadikan setiap draf kebijakan sebagai spesimen laboratorium. Bedah isinya: siapa yang untung? Siapa yang buntung? Tunjukkan bahwa di balik dasi dan gelar doktor para pembela kebijakan, tersembunyi nafsu serakah yang menghamba pada angka, bukan pada manusia.
Tujuan: Melucuti otoritas intelektual para pelayan kekuasaan agar rakyat sadar bahwa mereka sedang dipimpin oleh para perekayasa yang tidak punya empati.
Kekuasaan hari ini membangun “Tembok Besar” informasi melalui pasukan buzzer. Mereka merekayasa opini seolah-olah seluruh dunia setuju dengan mereka.
Analisis Kritis: Gunakan jempolmu sebagai senjata gerilya. Sederhanakan bahasa kitab kuning dan teori sosiologi yang rumit menjadi konten yang menusuk jantung persoalan. Jika mereka punya uang untuk membeli suara, kita punya kebenaran yang tidak bisa ditawar.
Tujuan: Meruntuhkan monopoli narasi. Pastikan “kesadaran massa” tumbuh secara organik dari diskusi warung kopi hingga media sosial, bukan dari fabrikasi mesin propaganda.
Hanafi membenci intelektual yang hanya menjadi penonton di menara gading.
Analisis Kritis: Ilmu tanpa tindakan adalah pengkhianatan. Turunlah ke tanah-tanah konflik agraria, dampingi buruh yang diperas aturan. Wujudkan etika politik dalam bentuk pendampingan nyata, bukan sekadar kutipan di status WhatsApp.
Tujuan: Memindahkan pusat perjuangan dari seminar hotel mewah menuju garis depan penderitaan rakyat. Di sanalah letak etika yang sebenarnya.
Dalam kacamata Kiri Islam, diamnya seorang intelektual adalah doa restu bagi kelanggengan kezaliman. Jika mereka merekayasa hukum untuk membangun istana keluarga, maka kita merekayasa nalar untuk membangun benteng pertahanan rakyat.
Tugas kita sederhana namun berat: Memastikan bahwa api Hasan Hanafi tetap menyala, membakar habis setiap jaring rekayasa yang berusaha mengurung kemerdekaan manusia.