Prestasi Tertinggi Pendidikan Kita: Menghasilkan “Intelektual Tanpa Nalar”

Oleh: Achmad Husnin Al-Muafi

Mari kita beri tepuk tangan yang meriah bagi sistem pendidikan kita. Ia telah berhasil mencetak lulusan-lulusan gemilang: orang-orang yang gelarnya berderet, jabatannya mentereng, namun memiliki kemampuan ajaib untuk melakukan loncat kesimpulan (jumping conclusion) tanpa perlu ancang-ancang logika.

Keahlian Khusus: Disinformasi Berbahasa Santun

Inilah kasta baru dalam masyarakat kita: Kaum Profesional Anti-Fakta. Mereka adalah seniman disinformasi yang sangat lihai. Dengan setelan jas rapi dan bahasa yang sangat sopan, mereka merusak nalar publik secara masif. Mengapa harus bicara benar jika hoaks saja bisa dikemas dengan retorika yang lebih memikat? Lagi pula, di negeri ini, kesantunan seringkali dianggap lebih penting daripada kebenaran data.

Kurikulum “Membisukan” Rakyat

Kita harus bangga karena telah sukses mempraktikkan teori Paulo Freire dengan sangat sempurna. Kita bukan lagi bangsa yang cerdik, melainkan Bangsa Bisu yang Bergelar. Kita dididik untuk sekolah tinggi agar bisa menduduki kursi jabatan. Setelah duduk, kita gunakan kursi itu untuk menonton rakyat didzalimi sambil tetap diam (bisu). Nalar kita simpan rapat-rapat di dalam laci, takut jika digunakan malah akan merusak tatanan distorsi kognitif yang sudah kita bangun dengan susah payah.

Warisan Paling Busuk

Sungguh sebuah warisan yang luar biasa untuk generasi masa depan. Kita tidak perlu mewariskan ilmu pengetahuan; cukup wariskan cara berpikir yang cacat, prasangka yang dipelihara, dan hoaks yang dibakukan.

“Teruslah menebar hoaks, teruslah memelihara miskonsepsi. Mari kita pastikan bahwa dalam buku sejarah masa depan, kita akan dicatat sebagai bangsa dengan wilayah paling luas, namun dengan nalar yang paling sempit.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Berita & Artikel Terkait

Berpegang pada filosofi “Menjaga Inti Informasi.” Kami percaya bahwa setiap peristiwa memiliki substansi yang harus disampaikan secara jernih dan utuh, tanpa distorsi maupun sensasionalisme. Karena itu, setiap konten diproduksi dengan komitmen pada akurasi, relevansi, dan keberimbangan, agar publik memperoleh informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga bermakna.