Seni Menghancurkan Bangsa dengan Gelar Akademik dan Seragam

Oleh: Achmad Husnin Al-Muafi

Mari kita angkat gelas setinggi-tingginya untuk sistem pendidikan modern kita. Sebuah mesin pencetak ajaib yang berhasil menelurkan manusia-manusia bergelar panjang dengan kemampuan kognitif yang luar biasa: Mampu menyimpulkan segalanya tanpa perlu berpikir.

Berkat pendekatan empiris-materialis yang linier, para intelektual kita kini memiliki kesaktian “Diagnosis Sekali Olah”. Tak perlu riset, tak perlu tabayyun. Cukup lihat sekilas, olah sedikit dengan asumsi, lalu muntahkan ke publik. Jika kiai atau dukun bisa mendiagnosis dengan “ilmu laduni”, maka kaum profesional kita punya “ilmu tergesa-gesa”.

1. Mahakarya Hoaks: Tragedi Es Gabus dan Nalara Imajinatif

Salah satu prestasi puncak dari kegagalan nalar ini adalah drama kolosal “Pedagang Es Gabus dan Aparat yang Terlalu Kreatif”. Bayangkan, seorang pedagang kecil yang berjuang mencari sesuap nasi, tiba-tiba harus berhadapan dengan barisan seragam yang memiliki “indera keenam” medis.

Hanya dengan sekali lihat—tanpa uji laboratorium, tanpa prosedur saintifik—sang pedagang dituduh menjual spon busa dalam bentuk es gabus. Inilah bukti bahwa pendidikan formal kita sukses besar: menciptakan orang-orang berotoritas yang lebih percaya pada intuisi liar daripada data. Ekonomi rakyat kecil hancur? Ah, itu kan hanya “kerusakan kolateral” dari sebuah eksperimen nalar yang gagal.

2. Jurus “Bunglon” Identitas: Pejabat atau Manusia Biasa?

Di negeri ini, jabatan adalah pakaian ajaib. Ia bisa dipakai saat ingin merasa berkuasa, namun bisa dilepas seketika saat harus bertanggung jawab.
Inilah fenomena “Ambyar Intelektual”:
Ketika membuat pernyataan yang merusak nalar publik atau menyebar hoaks kesehatan, mereka tampil dengan gagah di mimbar jabatan.
Namun, ketika hoaks itu meledak di muka mereka, tiba-tiba mereka berubah wujud menjadi “individu pribadi” yang sedang khilaf.

Sungguh praktis! Mereka ingin kita percaya bahwa seorang pejabat bisa membelah dirinya menjadi dua: Jam 08.00 – 16.00 menjadi Penyelenggara Negara, lalu jam 16.01 saat menyebar fitnah di grup WhatsApp, ia tiba-tiba menjadi “rakyat biasa” yang tak berdosa. Jika logika bunglon ini terus kita telan, maka bersiaplah menjadi Bangsa Bisu—bangsa yang hanya bisa melongo saat nalar mereka diperkosa oleh retorika santun para penguasa.

3. Masker Pikiran: Karena Kebodohan Lebih Menular dari Virus

Kita diajarkan untuk memakai masker untuk melindungi paru-paru, tapi kita lupa memakai “Masker Pikiran” untuk melindungi kewarasan.
Sebelum para redaktur media memberi judul bombastis pada pernyataan seorang tokoh, mari kita pasang saringan: Di ruang mana dia bicara? Dalam kapasitas apa dia menuduh? Dan sudahkah dia menggunakan otaknya atau hanya otot jabatannya?

Pesan Penutup: Teruslah menebar hoaks, teruslah menuduh pedagang kecil tanpa dasar, dan teruslah berdalih “itu hanya pendapat pribadi”. Mari kita pastikan bahwa generasi mendatang tidak perlu belajar logika di sekolah, cukup belajar cara bersilat lidah dan cara melempar tanggung jawab.

Selamat, kita telah berhasil menjadi bangsa besar dengan gelar mentereng, namun dengan nalar yang telah wafat di tangan para ahlinya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Berita & Artikel Terkait

Berpegang pada filosofi “Menjaga Inti Informasi.” Kami percaya bahwa setiap peristiwa memiliki substansi yang harus disampaikan secara jernih dan utuh, tanpa distorsi maupun sensasionalisme. Karena itu, setiap konten diproduksi dengan komitmen pada akurasi, relevansi, dan keberimbangan, agar publik memperoleh informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga bermakna.