Prinsip Halalan Tayyiban dalam Bisnis, Pesan TGB untuk Raih Keberkahan dan Sukses Dunia Akhirat

Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi. (Foto: Esensial.iD)

ESENSIAL.ID – Tokoh ulama sekaligus cendekiawan Muslim, Muhammad Zainul Majdi atau yang akrab disapa TGB, kembali mengingatkan pentingnya prinsip halal dan baik dalam menjalankan usaha. Pesan tersebut disampaikan melalui video singkat berdurasi sekitar dua menit yang diunggah di akun Facebook resminya pada 19 Maret 2026, dengan keterangan “Halalan Tayyiban: hidup tenang, berkah dunia akhirat”.

Dalam video tersebut, TGB menegaskan bahwa bekerja dan mencari rezeki, termasuk melalui aktivitas bisnis, bukan sekadar pilihan dalam Islam, melainkan sebuah kewajiban. Ia menjelaskan bahwa kerja tidak hanya bernilai duniawi, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang berdampak pada kebahagiaan di akhirat.

Menurut TGB, tujuan berbisnis tidak semata-mata mengejar keuntungan materi atau mengumpulkan aset dalam jumlah besar. Lebih dari itu, seorang pelaku usaha harus memastikan bahwa bisnis yang dijalankan membawa keberkahan. Ia menekankan bahwa keberkahan memang tidak selalu terlihat secara kasat mata, namun memiliki peran penting dalam menghadirkan kebaikan dan ketenangan hidup.

Jasa Desain Rumah 3D Denah RAB

“bekerja mencari rezeki termasuk berbisnis didalam islam itu bukan suatu pilihan, tapi bahkan suatu kewajiban,” ujar TGB dalam video tersebut.

Ia juga menjelaskan bahwa terdapat dua konsep utama yang harus menjadi pedoman dalam berbisnis, yaitu halalan dan tayyiban. Kedua istilah tersebut berkaitan erat dengan cara memperoleh rezeki, proses transaksi, hingga praktik usaha secara keseluruhan. Dengan menerapkan prinsip tersebut, sebuah bisnis diyakini akan menghasilkan keberkahan yang berdampak luas.

Sebaliknya, TGB mengingatkan bahwa praktik usaha yang mengandung unsur penipuan, manipulasi, atau sistem ribawi dapat menghilangkan nilai keberkahan, meskipun secara finansial terlihat menguntungkan. Ia mengutip ajaran Rasulullah SAW tentang seseorang yang berdoa dengan sungguh-sungguh, namun doanya sulit dikabulkan karena sumber rezekinya tidak halal.

Pesan ini menjadi refleksi penting bagi para pelaku usaha di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat. Integritas, kejujuran, dan kepatuhan terhadap prinsip halal tidak hanya menjadi tuntutan moral, tetapi juga fondasi keberlanjutan usaha.

Dari pesan tersebut, terdapat pelajaran yang bisa diambil masyarakat, khususnya para pebisnis. Pertama, orientasi bisnis tidak boleh hanya berfokus pada profit, tetapi juga pada nilai dan etika. Kedua, proses dalam memperoleh keuntungan harus dijaga agar tetap bersih dan sesuai prinsip halal. Ketiga, keberkahan menjadi faktor penting yang menentukan kualitas hasil usaha, bukan sekadar besarnya pendapatan.

Dengan menerapkan prinsip halalan tayyiban secara konsisten, pelaku usaha tidak hanya berpotensi meraih kesuksesan secara finansial, tetapi juga mendapatkan ketenangan dan keberkahan yang berdampak jangka panjang, baik di dunia maupun akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita & Artikel Terkait