

ESENSIAL.ID – Proyek pengembangan migas Manpatu yang digarap PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) diproyeksikan membawa dampak signifikan bagi masyarakat Kalimantan Timur, mulai dari peluang kerja, peningkatan ekonomi lokal, hingga penguatan pasokan energi di wilayah tersebut.
Dampak ini seiring dengan progres proyek yang terus berjalan, di mana PHM baru saja berhasil menyelesaikan tahapan penting berupa load out jacket pada 26 Maret 2026 di fasilitas fabrikasi PT Meindo Elang Indah, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.
Tahapan ini merupakan bagian krusial dalam rangkaian pengembangan proyek Manpatu, yang berlokasi di wilayah offshore South Mahakam, sekitar 35 kilometer dari pesisir Balikpapan, dengan kedalaman laut 50–60 meter.
Proyek ini dirancang untuk meningkatkan produksi gas dan kondensat dengan kapasitas mencapai 80 MMSCFD, yang tidak hanya berdampak pada ketahanan energi nasional, tetapi juga berpotensi mendukung aktivitas industri dan ekonomi di Kalimantan Timur.
General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menegaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga keberlanjutan produksi energi nasional.
“Kami terus mendorong inovasi serta penerapan teknologi yang mengacu pada praktik terbaik industri hulu migas, baik di tingkat nasional maupun global, yang diimplementasikan secara terpadu dalam seluruh aspek operasional dan bisnis perusahaan,” ujarnya.
Selain itu, proyek Manpatu juga mencatatkan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melalui penggunaan pipa lokal jenis Electric Resistance Welding (ERW) secara menyeluruh. Langkah ini membuka peluang lebih luas bagi industri dan pelaku usaha dalam negeri untuk terlibat dalam rantai pasok sektor migas.
Dari sisi pelaksanaan, proyek ini mencakup pembangunan satu anjungan baru (jacket dan piles) dengan berat sekitar 1.380 ton, serta topside seberat 1.100 ton. Tak hanya itu, pekerjaan juga meliputi pemasangan pipa bawah laut sepanjang 2,5 kilometer dan pengeboran 11 sumur pengembangan dengan tingkat kompleksitas tinggi.
PHM juga mencatat capaian positif dalam aspek keselamatan kerja, dengan lebih dari dua juta jam kerja tanpa insiden kehilangan waktu kerja (Lost Time Incident/LTI) hingga Maret 2026.
Sebagai proyek yang masuk kategori fast track, pengembangan Manpatu mengandalkan inovasi dan kolaborasi berbagai pihak, termasuk kontraktor Engineering, Procurement, Supply, Construction, and Commissioning (EPSCC), guna memastikan target penyelesaian tetap sesuai jadwal.
Ke depan, PHM akan melanjutkan tahap sail away topside pada pertengahan April 2026, dilanjutkan dengan proses instalasi yang dijadwalkan berlangsung hingga Mei 2026. Seluruh platform ditargetkan terpasang pada awal kuartal III 2026, sebelum akhirnya mulai beroperasi pada kuartal I 2027.
Dengan progres tersebut, proyek Manpatu diharapkan tidak hanya memperkuat produksi migas nasional, tetapi juga memberikan efek berkelanjutan bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Kalimantan Timur.