Ia memastikan pemerintah daerah akan terus menjamin pelaksanaan Erau dapat berlangsung sesuai waktu, tahapan, serta ketentuan adat yang telah diwariskan.
“Pemerintah daerah Kabupaten Kukar akan terus menjamin bahwa kegiatan Erau ini bisa terlaksana sesuai dengan waktunya dan prosesi yang dilaksanakan, baik itu sakral maupun seremonial, sesuai tahapan-tahapan dan sesuai dengan apa yang seharusnya dilaksanakan,” katanya.
Terkait prosesi belimbur yang menjadi salah satu rangkaian yang paling dinantikan masyarakat, Aulia mengingatkan seluruh peserta agar mematuhi titah Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Salah satu hal yang ditekankan adalah menjaga keamanan dan ketertiban selama pelaksanaan belimbur serta tidak menggunakan air kotor.
Menurut Aulia, penggunaan air bersih penting karena secara esensial belimbur memiliki makna sebagai proses penyucian diri.
“Kami berharap kepada seluruh pihak agar menggunakan air yang bersih sehingga tidak menimbulkan masalah selanjutnya,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) Basuki Hadimuljono yang turut menghadiri puncak Erau mengaku baru pertama kali mengikuti langsung puncak perayaan adat tersebut.
Basuki menilai Erau memiliki makna sebagai simbol hubungan yang erat antara pemimpin dengan rakyat maupun pemimpin dengan lingkungan.
“Alhamdulillah, ini baru pertama kali saya ikut puncak perayaan Erau. Saya memaknai Erau ini sebagai pemersatu antara pemimpin dan rakyatnya, antara pemimpin dan lingkungannya,” ujar Basuki.
Nilai budaya yang terkandung dalam Erau, lanjutnya, juga menjadi inspirasi dalam pembangunan IKN. Menurut Basuki, pembangunan kota yang cerdas dan futuristik tetap perlu berjalan beriringan dengan pelestarian budaya lokal.
Ia menyebut Otorita IKN telah merencanakan pembangunan pusat kebudayaan Nusantara yang nantinya turut mengakomodasi kebudayaan Kutai Kartanegara.
“Kami sudah rencanakan dan sudah ada sayembaranya untuk kegiatan atau pembangunan pusat kebudayaan Nusantara, termasuk kebudayaan Kutai Kartanegara. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” katanya.
Antusiasme masyarakat juga terlihat saat prosesi belimbur berlangsung. Salah seorang pengunjung yang merupakan perwakilan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kukar, Rahmi Dewi Yani, mengatakan Erau 2026 memiliki pesan kebersamaan yang kuat.

Menurut Rahmi, tema Erau tahun ini, “Raja Menunggal Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya”, tercermin sejak pembukaan hingga puncak pelaksanaan.
Ia menilai setiap rangkaian Erau tidak hanya menghadirkan kemeriahan budaya, tetapi juga mengandung nilai spiritual serta penghormatan terhadap leluhur.
“Dari pembukaan sampai puncak Erau hari ini terdapat nilai spiritual dan penghormatan mendalam kepada leluhur, serta menciptakan kebersamaan seluruh masyarakat Kukar,” ujar Rahmi.
Rahmi juga menilai Erau tidak hanya dapat dinikmati masyarakat Kutai, tetapi memiliki potensi menjadi daya tarik wisata bagi masyarakat dari luar daerah yang berkunjung ke Kutai Kartanegara.
Ia berharap pelaksanaan Erau secara berkelanjutan dapat semakin memperkenalkan kebudayaan Kutai sekaligus menarik lebih banyak wisatawan untuk datang ke Kukar.