Lebih dari Sekadar Takjil: Membaca Ulang Makna “Polisi Sahabat Rakyat” di Tengah Tren Buka Puasa Bersama

Foto: Kapolres Kukar, AKBP Khairul Basyar, hadir langsung bersama jajaran personel dan Bhayangkari. (Esensial.iD)

ESENSIAL.ID – Di tengah kepungan berita-berita kriminal yang seringkali membuat dada sesak, pemandangan berbeda justru tersaji di Pos Pulau Kumala, Kutai Kartanegara, Rabu (25/02/2026). Tidak ada jarak, tidak ada sekat. Kapolres Kukar, AKBP Khairul Basyar, duduk lesehan berdampingan dengan pengemudi ojek online, wartawan, hingga petugas kebersihan.

Kegiatan buka puasa bersama ini, jika dilihat dari permukaan, hanyalah agenda rutin seremonial belaka. Namun, jika kita menyelam lebih dalam, ini adalah strategi komunikasi publik yang cerdas di era modern.

Meruntuhkan Dinding Birokrasi

Salah satu tantangan terbesar institusi kepolisian saat ini adalah membangun kepercayaan publik. Pendekatan hukum (penegakan aturan) seringkali membuat kepolisian terlihat kaku dan jauh dari masyarakat. Kegiatan semacam ini mencoba meruntuhkan dinding tebal tersebut.

Dengan melibatkan wartawan dan ojol—dua kelompok yang menjadi ujung tombak informasi dan pergerakan di lapangan—Polres Kukar secara tidak langsung sedang membangun jejaring keamanan berbasis komunitas. Ketika polisi duduk bersama warga, bahasa yang digunakan bukan lagi bahasa perintah, melainkan bahasa kekeluargaan.

Sinergi Keamanan di Meja Makan

AKBP Khairul Basyar menyampaikan poin penting bahwa sinergi yang terbangun harmonis berbanding lurus dengan kondusifnya situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Ini bukan sekadar klaim kosong. Dalam kajian sosiologi masyarakat, komunikasi yang terbuka akan meminimalisir konflik dan kesalahpahaman antara aparat dan warga.

Aksi nyata lainnya, seperti pembagian takjil rutin dan sembako, juga menunjukkan pergeseran paradigma kepolisian dari sekadar penegak hukum menjadi mitra sosial.

Kesimpulan

Di tengah bulan suci Ramadan, upaya Polres Kukar ini patut diapresiasi sebagai langkah merawat silaturahmi. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana momen kehangatan di meja makan ini dapat diterjemahkan menjadi tindakan profesional yang merakyat di lapangan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita & Artikel Terkait