Salah satu konsep yang disiapkan adalah pelaksanaan kegiatan taaruf di luar kantor KUA. Hairillah menyebut lokasi yang tengah dipertimbangkan antara lain Mal Pelayanan Publik (MPP), sementara prosesi “Married On The Road” direncanakan mengambil rute dari kawasan Titik Nol Tenggarong menuju kawasan Jembatan Putar Balik dan kembali ke titik kegiatan.
“Kemarin kami sudah menghadap kepada Kemenag dan beliau sangat mendukung kegiatan ini. Beliau juga bersedia atau siap untuk memberikan dukungan dana terkait dengan kegiatan ini,” kata Hairillah.
Ia menyebut Jemput Jodoh Halal merupakan konsep yang masih tergolong baru. Bahkan, menurut Hairillah, program dengan pola serupa belum pernah didengarnya diterapkan secara nasional dengan konsep yang sama.
Hairillah membandingkannya dengan program “Golek Garwo” yang diketahuinya pernah dikembangkan di Yogyakarta dan Jakarta. Namun, menurut dia, terdapat perbedaan konsep karena program JJH KUA Tenggarong sejak awal digagas dan dijalankan oleh penghulu serta penyuluh agama dengan melibatkan KUA sebagai penggerak utama.
“Kalau ini kan berbeda dengan mereka. Kami yang memulai dari proses seperti ini, kemudian nanti bekerja sama dengan vendor-vendor,” ujarnya.
Program Jemput Jodoh Halal sendiri menargetkan sedikitnya 25 pasangan pada tahap perdana. Peserta akan melalui sejumlah tahapan, mulai dari pendaftaran, pengisian biodata, proses saling mengenal, edukasi, hingga kegiatan bersama yang membahas psikologi rumah tangga, ketahanan keluarga, dan kesehatan calon pengantin.
Jika peserta telah menemukan kecocokan dan menyatakan siap melanjutkan hubungan ke pernikahan, KUA Tenggarong akan memfasilitasi tahapan berikutnya sesuai konsep yang telah disiapkan.