

Oleh: Achamd Husnin Al-Muafi
Selamat datang di era baru pendidikan Indonesia, di mana Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) kini resmi kalah pamor dibanding Indeks Massa Tubuh (IMT). Kita akhirnya menyadari bahwa musuh terbesar literasi bukanlah kurangnya minat baca atau kurikulum yang gonta-ganti, melainkan bunyi perut yang lebih nyaring daripada suara guru di depan kelas.
1. Revolusi Meja Makan vs. Revolusi Mental
Siapa butuh pendidikan karakter kalau kita bisa membangun karakter melalui antrean nasi kotak? Mengajarkan kejujuran dan integritas itu abstrak dan melelahkan. Lebih mudah mengukur keberhasilan bangsa lewat timbangan badan di UKS daripada lewat kemampuan berpikir kritis. Bukankah lebih baik punya generasi yang jago membedakan mana lauk ayam dan mana lauk tempe, daripada generasi yang jago membedakan fakta dan hoaks?
2. Kurikulum Berbasis Kalori
Sepertinya kita perlu merevisi Standar Nasional Pendidikan. Mungkin mata pelajaran Matematika bisa diganti dengan “Logistik Persusuan”, dan Fisika fokus pada “Dinamika Tekanan Sendok terhadap Piring”.
Prioritas Lama: Mengasah otak agar mampu bersaing di kancah global.
Prioritas Baru: Memastikan semua mulut mengunyah di jam yang sama.
3. Jebakan “Logika Perut” dalam Pembangunan Manusia
Program makan gratis seringkali didorong oleh pemikiran bahwa gizi adalah panacea (obat segalanya). Namun, mengasumsikan bahwa perbaikan gizi otomatis meningkatkan kualitas pendidikan adalah lompatan logika yang berbahaya.
Argumen: Gizi adalah enabler (pendukung), bukan driver (penggerak) kecerdasan. Anak yang kenyang namun dididik dengan kurikulum yang dangkal dan guru yang tidak kompeten hanya akan menjadi individu sehat yang tidak kompetitif.
Poin Utama: Fokus berlebih pada aspek biologis berisiko mereduksi manusia menjadi sekadar statistik kesehatan, bukan subjek intelektual.
4. Krisis Literasi vs. Surplus Kalori
Indonesia saat ini sedang mengalami “darurat literasi” (skor PISA yang stagnan). Mengalihkan fokus anggaran dan energi birokrasi secara besar-besaran ke logistik pangan dapat memperlebar jurang ketertinggalan pendidikan.
Argumen: Masalah utama pendidikan kita bukan hanya anak yang lapar, tapi anak yang tidak diajarkan cara berpikir. Perbaikan kurikulum yang menuntut nalar kritis jauh lebih mendesak daripada sekadar perbaikan menu makan siang.
Poin Utama: Kita tidak boleh menciptakan generasi yang “sehat secara fisik, namun lumpuh secara logika.”
5. Karakter Tidak Bisa Dibentuk oleh Nutrisi
Pendidikan karakter (kejujuran, disiplin, empati) memerlukan sistem yang terintegrasi dalam budaya sekolah, bukan sekadar asupan protein.
Argumen: Jika anggaran pendidikan tersedot untuk operasional makan, program-program penguatan karakter dan pelatihan guru akan dikorbankan. Karakter bangsa dibentuk melalui teladan dan kurikulum yang humanis, bukan lewat pembagian susu.
Poin Utama: Integritas dan moralitas tidak datang dari apa yang dimakan, melainkan dari apa yang dipelajari dan dipraktikkan.
6. Ancaman Birokratisasi Sekolah
Sekolah seharusnya menjadi kuil ilmu, namun berisiko berubah menjadi “dapur umum” raksasa.
Argumen: Beban administratif guru akan bertambah untuk mengurusi logistik pangan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk evaluasi pembelajaran atau bimbingan konseling akan tersita oleh urusan katering.
Poin Utama: Prioritas pendidikan harus tetap pada aktivitas pedagogis, bukan aktivitas logistik.
Kesimpulan Argumen
Memberi makan anak bangsa adalah kewajiban negara, namun memelihara akal budi adalah mandat konstitusi untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Jangan sampai kita berhasil menghapus rasa lapar, tapi justru melanggengkan kebodohan akibat pengabaian pada substansi pendidikan.