ESENSIAL.ID – Upaya mengenalkan dan melestarikan bahasa daerah mendapat perhatian dalam gelaran Erau 2026 di Stadion Rondong Demang, Tenggarong. Salah satu stan yang mencuri perhatian adalah stan SMP Negeri 10 Loa Kulu yang menghadirkan permainan edukatif berbasis bahasa Melayu Kutai.
Stan tersebut menjadi bagian dari pameran pendidikan yang diikuti sejumlah sekolah di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Melalui konsep pembelajaran yang interaktif, tim SMPN 10 Loa Kulu memperkenalkan kosakata Melayu Kutai kepada pengunjung melalui permainan Teka-Teki Silang (TTS) dan Scrabble.
Kunjungan berlangsung pada Sabtu, ( 26/9/2026), sekitar pukul 16.00 hingga 17.30 WITA. Pada kesempatan tersebut, rombongan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kabupaten Kutai Kartanegara melakukan peninjauan ke sejumlah stan pendidikan yang berpartisipasi dalam pameran Erau 2026.
Beberapa stan yang dikunjungi dalam agenda tersebut antara lain SMPN 1 Tenggarong, SMPN 2 Tenggarong, SMPN 3 Tenggarong, SMPN 6 Tenggarong, SMPN 9 Tenggarong, SMPN 1 Tenggarong Seberang, SMPN 1 Loa Kulu, SMPN 6 Loa Kulu, SMPN 8 Loa Kulu, dan SMPN 10 Loa Kulu.
Setiap stan menghadirkan konsep dan keunggulan masing-masing. Di stan SMPN 10 Loa Kulu, pengunjung diajak tidak hanya melihat produk atau media pembelajaran, tetapi juga berinteraksi secara langsung dengan permainan yang mengangkat kosakata bahasa Melayu Kutai.
Suasana semakin hidup ketika sejumlah kepala sekolah yang tergabung dalam rombongan MKKS mencoba permainan TTS dan Scrabble. Pada awalnya, beberapa peserta tampak masih ragu untuk ikut bermain. Namun, keraguan tersebut berubah menjadi antusiasme setelah permainan dimulai.
Para pimpinan sekolah terlihat mulai menyusun huruf, mencari kosakata yang tepat, sekaligus mengingat kembali istilah-istilah dalam bahasa Melayu Kutai. Aktivitas tersebut membuat suasana stan menjadi lebih cair dan komunikatif.
Konsep pembelajaran seperti ini menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan bahasa daerah dengan pendekatan yang dekat dengan dunia anak. Bahasa tidak hanya diperkenalkan melalui teori, tetapi juga dikemas menjadi aktivitas bermain yang mendorong peserta untuk berpikir, mengingat kosakata, dan berinteraksi.
Perhatian juga datang dari Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara, Emy Rosana Saleh. Saat mengunjungi stan, Emy turut mencoba permainan TTS yang menggunakan kosakata berkaitan dengan bumbu dapur.
Menariknya, Emy menunjukkan penguasaan bahasa Melayu Kutai dengan menyelesaikan TTS tersebut dalam waktu relatif cepat. Momen tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa penggunaan bahasa daerah dapat dikemas dalam bentuk permainan yang menyenangkan sekaligus menantang.
Selain Emy Rosana Saleh, Pengawas Pembina Rubiyanto, juga memberikan perhatian terhadap aktivitas yang ditampilkan di stan SMPN 10 Loa Kulu. Ia mengamati kegiatan anak-anak yang mewarnai serta penggunaan media Scrabble sebagai sarana pengenalan bahasa daerah.
Menurut Rubiyanto, penguatan literasi dan numerasi bagi murid dapat dikembangkan melalui berbagai media pembelajaran yang menarik dan kontekstual. Permainan edukatif dapat menjadi salah satu alternatif untuk membuat proses belajar lebih menyenangkan sekaligus mendorong keterlibatan aktif peserta didik.
Kehadiran berbagai permainan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian bahasa daerah dapat dilakukan melalui pendekatan kreatif. Media sederhana seperti TTS dan Scrabble dapat dikembangkan menjadi sarana pembelajaran yang menggabungkan unsur bahasa, daya ingat, pemecahan masalah, serta interaksi sosial.

Bagi tim Mandik Teapai Smepten, apresiasi dan dukungan yang diberikan selama kunjungan menjadi energi tambahan untuk terus mengembangkan inovasi. Sambutan positif dari para kepala sekolah se-Kukar, pengawas pembina, serta jajaran Disdikbud Kukar dinilai menjadi dorongan penting bagi tim untuk menghasilkan gagasan pembelajaran yang semakin kreatif.
Partisipasi SMPN 10 Loa Kulu dalam pameran Erau Adat Kutai 2026 sekaligus menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa muatan lokal bahasa daerah dapat ditempatkan sebagai bagian dari inovasi pendidikan. Pengenalan bahasa Melayu Kutai tidak harus berlangsung melalui pembelajaran konvensional, tetapi dapat dikembangkan melalui permainan, kreativitas, dan pengalaman belajar yang menyenangkan.
Melalui kegiatan tersebut, upaya pelestarian bahasa Melayu Kutai diharapkan dapat terus tumbuh di lingkungan sekolah. Generasi muda tidak hanya mengenal bahasa daerah sebagai bagian dari warisan budaya, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menggunakannya dalam berbagai aktivitas pembelajaran.