ESENSIAL.ID – Suasana meriah mewarnai pelaksanaan pesta adat Erau 2026 yang berlangsung pada 20–26 September 2026 di area pameran Stadion Rondong Demang, Tenggarong. Di tengah puluhan stan yang menawarkan beragam produk dan kegiatan, stan SMP Negeri 10 Loa Kulu tampil dengan konsep edukatif yang memadukan permainan dengan upaya pelestarian bahasa daerah.
Stan yang dikelola tim Mandik Teapai Smepten tersebut menjadi salah satu titik yang menarik perhatian pengunjung. Kepadatan pengunjung terlihat terutama pada malam hari, sekitar pukul 19.00 hingga 22.00 WITA. Berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa, terlihat antusias mengikuti aktivitas yang disediakan.
Daya tarik utama stan tersebut terletak pada permainan edukatif berbasis bahasa Melayu Kutai. Pengunjung dapat mencoba Teka-Teki Silang (TTS) berbahasa Melayu Kutai, permainan mencari kata, hingga Scrabble dengan kosakata bahasa Melayu Kutai. Permainan tersebut tersedia dalam berbagai bentuk, termasuk papan Scrabble berukuran besar yang ditempatkan pada dinding stan sehingga dapat dimainkan secara interaktif.
Konsep tersebut memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat yang ingin mengenal kembali kosakata bahasa Melayu Kutai. Selain menjadi hiburan, permainan dirancang untuk mengajak pengunjung mengingat dan menggunakan kosakata daerah yang mulai semakin jarang terdengar dalam percakapan sehari-hari.
Untuk mendukung proses belajar, tim Mandik Teapai Smepten turut menyediakan Kamus Bahasa Kutai terbitan Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur di lokasi pameran. Kamus tersebut dapat dimanfaatkan pengunjung sebagai rujukan ketika menemukan kosakata yang belum diketahui atau mengalami kesulitan dalam menyelesaikan permainan.
Kehadiran referensi bahasa tersebut membuat aktivitas di stan tidak sekadar menjadi permainan, tetapi juga menjadi ruang belajar informal bagi masyarakat. Pengunjung dapat mencari arti dan memahami kosakata Melayu Kutai secara langsung sembari mengikuti permainan yang tersedia.
Konsep edukasi juga dirancang agar dapat dinikmati anak-anak. Pengunjung dari jenjang taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah dasar (SD) mendapatkan ruang untuk menggambar dan mewarnai. Tim pameran menyediakan meja berukuran kecil, kertas gambar sederhana yang memuat kosakata Melayu Kutai serta perlengkapan pewarna secara gratis.
Aktivitas tersebut menjadi salah satu cara memperkenalkan bahasa daerah kepada anak sejak usia dini melalui kegiatan yang dekat dengan dunia mereka. Anak-anak tidak hanya diajak mengenal bentuk dan warna, tetapi juga diperkenalkan dengan kosakata Melayu Kutai dalam suasana bermain yang santai.
Pendekatan berbasis permainan atau game-based learning menjadi bagian penting dalam konsep yang diusung SMPN 10 Loa Kulu. Melalui TTS, cari kata dan Scrabble, pengenalan kosakata dapat dilakukan secara interaktif sehingga pengunjung tidak hanya menerima materi secara pasif.
Materi permainan juga disusun dengan mengacu pada referensi kebahasaan dari Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur. Kamus Bahasa Kutai–Bahasa Indonesia dan Kamus Pelajar Bahasa Kutai digunakan sebagai salah satu rujukan dalam memvalidasi kosakata yang digunakan dalam permainan.
Selain melalui buku yang tersedia di stan, referensi kebahasaan tersebut juga dapat dikembangkan melalui pemanfaatan laman maupun aplikasi kamus digital. Cara ini membuka peluang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal bahasa daerah dengan memanfaatkan media yang lebih sesuai dengan perkembangan teknologi.
Kehadiran stan SMPN 10 Loa Kulu dalam Erau 2026 menunjukkan bahwa pelestarian bahasa daerah dapat dilakukan melalui pendekatan yang kreatif dan mudah diterima masyarakat. Permainan yang sederhana dapat menjadi media untuk memperkenalkan kembali kosakata Melayu Kutai kepada berbagai kelompok usia.
Di tengah perubahan pola komunikasi dan semakin luasnya penggunaan bahasa Indonesia maupun bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari, ruang interaksi seperti stan Mandik Teapai Smepten menjadi salah satu bentuk pengenalan bahasa daerah secara langsung kepada masyarakat.
Melalui perpaduan permainan, literasi dan aktivitas kreatif untuk anak, SMPN 10 Loa Kulu menghadirkan pengalaman belajar bahasa Melayu Kutai yang bersifat rekreatif sekaligus edukatif. Konsep tersebut juga memperlihatkan bahwa upaya menjaga keberadaan bahasa daerah tidak selalu harus dilakukan melalui pembelajaran formal, tetapi dapat dikemas dalam kegiatan publik yang menarik dan interaktif.
Partisipasi stan SMPN 10 Loa Kulu dalam Erau 2026 pada akhirnya tidak hanya memperkaya suasana pameran, tetapi juga menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk kembali berinteraksi dengan bahasa Melayu Kutai. Permainan tradisional-modern yang dikombinasikan dengan sumber belajar kebahasaan menjadi pendekatan yang memungkinkan pelestarian bahasa daerah berlangsung secara menyenangkan dan dapat diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat.