ESENSIAL.ID – Belakangan ini, jagat media sosial kita lagi-lagi gaduh. Isunya klasik, debat soal siapa yang layak dibela dalam konflik Timur Tengah. Ada yang membela Iran, tapi ada juga yang enggan karena urusan perbedaan paham (Sunni-Syiah).
Melihat kegaduhan ini, Rahmadi Wirantanus, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hurro Tenggarong, ikut angkat bicara. Kiai muda yang kini sedang menempuh studi Doktoral di UINSI Samarinda ini mengajak umat Islam untuk “cooling down” dan melihat masalah ini dengan kacamata yang lebih jernih.
Satu Al-Qur’an, Satu Kiblat
Menurut Rahmadi, perbedaan teologi itu sejarah lama yang tidak seharusnya jadi alasan untuk saling caci di masa sekarang. Ia mengingatkan bahwa Iran tetaplah bagian dari keluarga besar dunia Islam.
“Mereka itu bersaksi pada Tuhan yang sama, Allah SWT, dan mencintai Nabi yang sama, Muhammad SAW. Al-Qur’annya sama, bahkan mereka rajin bikin MTQ internasional. Kiblatnya pun sama,” ungkap Rahmadi dalam tulisannya.
Baginya, selama fondasinya masih sama, maka persaudaraan (ukhuwah) harus tetap nomor satu. Ia mengutip ayat Al-Qur’an yang sudah sangat akrab di telinga kita, Innamal mu’minuna ikhwah, sesungguhnya orang beriman itu bersaudara.
Hati-hati “Adu Domba” Global
Rahmadi juga mengingatkan, kalau kita sibuk bertengkar sendiri cuma gara-gara beda mazhab, yang senang justru pihak-pihak yang ingin melihat Islam lemah.
“Dunia lagi banyak penindasan. Kalau kita sibuk serang-serangan di dalam, kita jadi lemah. Mari jaga adab dan jaga hati dari kebencian,” tambahnya.
Pesan Penting: Stok Makanan di Rumah!
Nah, yang menarik, Rahmadi tidak cuma bicara soal teori atau agama. Sebagai sosok yang peduli pada kondisi umat, ia memberi peringatan praktis soal dampak ekonomi perang.
Ia mewanti-wanti soal kemungkinan tertutupnya Selat Hormuz (jalur perdagangan penting dunia) jika perang memuncak. Efeknya bisa ke urusan dapur kita di Indonesia.
“Ini penting, mari siapkan ketahanan pangan masing-masing. Setidaknya untuk dua bulan ke depan, jaga-jaga kalau situasi memburuk,” pesan kandidat doktor ini dengan nada serius namun peduli.
Di akhir pesannya, ia menekankan bahwa meski kita mungkin berbeda cara pandang atau mazhab, identitas kita tetap satu. “Kiblat kita satu, kitab kita satu, Nabi kita satu. Semoga Allah jaga persatuan kita,” pungkasnya.