Menurut pandangan yang disampaikan dalam kunjungan tersebut, penggunaan permainan sebagai media pengenalan bahasa daerah merupakan pendekatan yang menarik dan adaptif. Model seperti TTS, Cari Kata, dan Scrabble dinilai dapat menjadi alternatif pendukung pembelajaran muatan lokal bahasa Kutai di lingkungan sekolah.
Konsep yang dikembangkan SMPN 10 Loa Kulu tersebut juga memberikan gambaran bahwa pembelajaran bahasa daerah dapat dikemas dengan cara yang lebih interaktif. Peserta didik tidak hanya memperoleh materi melalui metode pembelajaran konvensional, tetapi dapat berinteraksi langsung dengan kosakata melalui aktivitas permainan.
Kunjungan Bupati Kukar dan Kepala Dinas Pendidikan ke stan Mandik Teapai menjadi momentum penting bagi tim SMPN 10 Loa Kulu. Apresiasi dari dua pejabat tersebut memberikan dorongan bagi tim untuk terus mengembangkan inovasi pembelajaran yang mengangkat bahasa dan budaya lokal.

Di tengah tantangan menjaga keberlangsungan penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda, kreativitas dalam menghadirkan media pembelajaran menjadi salah satu pendekatan yang dapat memperluas ruang interaksi dengan bahasa Melayu Kutai. Permainan edukatif memungkinkan proses pengenalan kosakata berlangsung dalam suasana yang lebih santai sekaligus melibatkan pengunjung secara aktif.
Partisipasi SMPN 10 Loa Kulu dalam Erau 2026 dengan membawa permainan bahasa daerah juga memperlihatkan bahwa kegiatan pameran dapat menjadi ruang edukasi bagi masyarakat. Stan tidak hanya menjadi tempat menampilkan karya sekolah, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan kekayaan bahasa Melayu Kutai melalui aktivitas yang mudah diikuti berbagai kelompok usia.
Dukungan dan apresiasi yang diterima selama kegiatan Erau 2026 menjadi tambahan motivasi bagi tim Mandik Teapai Smepten untuk melanjutkan upaya pelestarian bahasa dan budaya lokal. Melalui inovasi permainan edukatif, bahasa Melayu Kutai dihadirkan dalam bentuk yang lebih dekat dengan dunia pendidikan dan generasi muda.